Angkasa Pura 2

Marunda bisa dijadikan buffer Pelabuhan Priok

DermagaFriday, 20 September 2013

JAKARTA (beritatrans.com)–Debat kusir soal penyebab tingginya dwelling time (lamanya barang numpuk) di Pelabuhan Priok masih bisa diatasi. Solusinya harus dicarikan lahan sebagai buffer (penyangga) tempat pemindahan kontainer/barang dari pelabuhan.

Ketua Komite tetap kepabeanan dan perpajakan impor/ekspor Kadin DKI, Widianto mengatakan kemarin, tingginya dwelling time di Priok karena lahan di pelabuhan terbatas. Karena itu harus ada lahan penyangga untuk tempat memindahkan kontainer/ barang yang sudah lebih tiga hari di pelabuhan.

Widianto mengatakan soal dimana lahannya Pelindo II dan Bea Cukai dibawah koordinasi Kemenhub dan Kemenkeu bisa saja melakukan kerjasama dengan pengelola kawasan KBN Marunda yang masih memiliki lahan luas dan tak jauh dari pelabuhan.
Tapi kebijakan ini harus melibatkan Kemenhub dan Ditjen BC/Kemenkeu karena kebijakan itu perlu payung hukum terkait dengan pengawasan
Pabean, siapa menanggung biaya truckingnya dan tarifnya harus reasonable atau sama dengan tarif penumpukan di pelabuhan.

Widiyanto setuju dengan lima langkah digagas Dirjen Hubla Kemenhub, Bobby Mamahit untuk atasi dwelling time. Tapi perlu dtambah adanya lahan penyangga di Marunda.
Lima langkah tersebut yaitu: peremajaan angkutan pelabuhan, buffer tempat parkir truk di Ancol Timur, lahan parkir di Cilincing, tidak menjadikan dermaga tempat penumpukan barang dan pemilik barang serta instansi terkait yakni BC dan Badan Karantina optimalkan pemanfaatan tempat pemeriksaan fisik terpadu (TPFT) di Pelabuhan Tanjung Priok.(wilam)