Angkasa Pura 2

Indonesia Calonkan Diri Jadi Anggota Dewan ICAO 2013-2016

BandaraKamis, 26 September 2013
Menhub EE Mangindaan

MONTREAL (beritatrans.com) – Indonesia mencalonkan diri menjadi anggota Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO) periode 2013-2016 pada siding majelis ke-38 ICAO, yang berlangsung 24September-4 Oktober 2013 di Montreal, Kanada.

Pernyataan resmi pencalonan Indonesia untuk menjadi anggota Dewan ICAO disampaikan Menteri Perhubungan, E. E. Mangindaan pada Sidang Majelis ICAO, Rabu (25/9/2013) di Montreal, Kanada.

“Indonesia berkepentingan untuk menjadi anggota Dewan ICAO mengingat Indonesia memiliki wilayah udara yang sangat luas, yang dilalui oleh 247 rute udara domestic yang menghubungkan 125 kota di Indonesia serta 57 rute udara internasional yang menghubungkan 25 kota di 13 negara,” jelas Mangindaan.

Dalam kesempatan itu, Menhub Mangindaan mengemukakan, Indonesia memiliki 233 bandara terdiri dari 31 bandara status internasional dan 202 berstatus bandara domestik. Transportasi udara merupakan trasportasi yang sangat penting di Indonesia.

Menhub mengemukakan, pertumbuhan transportasi udara selama 5 tahun terakhir rata rata 16% dan diperkirankan akan terus berlanjut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan mencapai 6% serta adanya peningkatan jumlah masyarakat kelas menengah yang mampu melakukan perjalanan dengan transportasi udara.

“Karena itu, jika menjadi anggota Dewan ICAO, Indonesia dapat berperan dan berpartipasi lebih aktif lagi serta dapat berkontribusi dalam penyusunan kebijakan penerbangan sipil internasional yang dibuat ICAO, dengan tetap mempertimbangkan kepentingan nasional/regional, khususnya di bidang navigasi penerbangan, keamanan penerbangan, pengelolaan bandar udara dan juga upaya penurunan emisi gas rumah kaca,” jelasnya.

Menurut dia, Republik Indonesia menjadi kandidat pada pemilihan dewan ICAO pada Part 3, Kami yakin bahwa dengan pasar penerbangan sipil terbesar di sub regional, sektor transportasi udara yang kuat dan kemajuan yang didapatkan melalui rejim peraturan yang telah diperbaharui, posisi Indonesia saat ini memungkinkan untuk memberikan kontribusi yang signifikan kepada ICAO.  Jika terpilih, Indonesia bukan hanya akan berusaha tapi juga mengerahkan sumber daya untuk mendukung tugas organisasi ini.

 

Kualitas Layanan

“Sejak tahun 2011, telah dilakukan implementasi terhadap Indonesia State Safety Programme. Dimulai dari tahun 2012, Single Air Navigation Service Provider yang disebut dengan “AirNav Indonesia” telah dibentuk untuk menggantikan tiga penyedia jasa sejenis sebelumnya,” paparnya.

Selaitu itu,  kata Menhub, the Civil Aviation Strategic Action Plan for Indonesia telah diadopsi dan diimplementasikan dimana action plan ini telah mencakup perkembangan penerbangan sipil secara keseluruhan termasuk bandar udara dan infrastruktur.

Menhub Mangindaan menambahkan, Garuda Indonesia, maskapai internasional ternama Indonesia, dengan upaya kerasnya maskapai tersebut pada keselamatan operasional dan kualitas layanan, Garuda Indonesia telah kembali menerima penghargaan yaitu  Skytrax Awards pada 2013, sebagai “World’s Best Economy Class” dan “World’s Best Economy Class Seats”.

“Tahun ini, Garuda Indonesia mendapatkan peringkat ke 8  pada ”World’s Top Ten Airlines” Skytrax ranking. Tahun lalu, maskapai tersebut telah menerima dua penghargaan lainnya” papar Menteri Perhubungan.

Dia menegaskan, Indonesia  memiliki perhatian terhadap isu lingkungan penerbangan. Wujud nyata dari perhatian tersebut adalah penerapan Eco Airport Master Plan pada sejumlah bandar udara utama Indonesia. Indonesia juga berpartisipasi aktif dalam mendukung upaya ICAO melindungi lingkungan penerbangan dan pada tahun 2012 Indonesia telah ditunjuk oleh dewan ICAO untuk menjadi observer pada Komite Perlindungan terhadap Lingkungan Penerbangan (CAEP).
Pada Maret tahun ini,  tandasnya, Indonesia dan ICAO mengumumkan sebuah proyek baru yang bertujuan untuk meningkatkan manajemen dan pengurangan emisi karbon penerbangan. The large-scale Environmental Measures Project akan dilaksanakan dengan kerjasama Kementerian Perhubungan Indonesia dengan Kerjasama Teknis ICAO TBC (Technical Cooperation Bureau).

Proyek ini, ujar Menhub, menunjukkan keseriusan Indonesia untuk benar-benar memperhatikan performa lingkungan di sektor transportasi udara baik jangka pendek maupun panjang, sambil menerapkan Keputusan Presiden tentang Emisi Gas Rumah Kaca.

“Dalam kesempatan ini saya menyampaikan dokumen proyek untuk the large-scale Environmental Measures Project telah ditandatangani kemarin di kota ini, Montreal, antara Indonesia dan ICAO, dan akan diterapkan dalam periode 3 tahun yang akan dimulai pada awal tahun 2014,” kata Mangindaan.

 

Diaudit ICAO

Harus diakui, Mangindaan, selama ini Indonesia telah pula menunjukkan komitmen terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan, dimana Indonesia telah di audit oleh ICAO melalui USOAP (Universal Safety Oversight Audit Program) dan USAP (Universal Audit Program).

Menghub menyebutkan, hasil audit terbaru ICAO telah menunjukkan tingkat rata-rata kepatuhan Indonesia 82,3%, salah satu nilai tertinggi di Asia Tenggara sedangkan tingkat kepatuhan rata-rata program ICAO USOAP adalah 58,75%. Dengan pendekatan monitoring yang berkelanjutan ICAO, Indonesia berkeinginan untuk meraih tingkat rata-rata kepatuhan lebih baik lagi.

Di bidang navigasi penerbangan Indonesia telah menghabiskan lebih dari US250 juta untuk modernisasi system Air Traffic Management dengan teknologi terkini. Sistem sekaang ini telah meliputi ADS-B (Automatic Dependent Surveillance-Broadcast), Mode-S Radar, RVSM (Reduced Vertical Separation Minima), PBN (Performance Based Navigation dan AIDC (ATS Inter facility Data Communication), dalam rangka meningkatkan kapasitas dan mengharmonisasikan dengan FIR negara tetangga.(awe/machda).

 

 

 

 

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari