Angkasa Pura 2

Kereta Api, Moda Transportasi Murah dan Efisien

EmplasemenKamis, 3 Oktober 2013
KERETA JABODETABEK

JAKARTA (beritatrans.com) – Hingga saat ini, sekitar 80% pergerakan transportasi di Pulau Jawa masih didominasi oleh transportasi jalan. Para pelaku usaha lebih memilih penggunaan truk daripada kereta api karena alasan handling, jadwal, aksesibilitas, dan sebagainya.

“Karena itu, pengurangan beban jalan dapat dialihkan dan diseimbangkan dengan moda transportasi lainnya seperti kereta api dan transportasi laut. Untuk efisiensi biaya transportasi dan logistik, penggunaan kereta api sangat penting terutama untuk jarak antara 500-1500 km. Pada jarak tersebut, biaya transportasi termurah adalah kereta api,” jelas Setijadi,
Chairman Supply Chain Indonesia, di Jakarta, Rabu (2/10/2013).

Menurut dia, pembangunan jalur ganda kereta api lintas utara Jawa diharapkan dapat mendorong penggunaan kereta api sebagai moda transportasi, termasuk transportasi barang. Keberadaan jalur ganda diperkirakan akan dapat meningkatkan frekuensi dan kapasitas kereta api sebesar 200-300%.

“Berdasarkan data dari Kementerian Perhubungan, frekuensi kereta api barang dari Jakarta menuju Surabaya pada saat ini sebanyak 5 trip per hari, dengan kapasitas 160 TEU per hari. Pada saat jalur ganda sudah beroperasi, frekuensi kereta api barang berpotensi meningkat 3 kali lipat menjadi 15 trip per hari, dengan kapasitas 500 TEU per hari. Dengan demikian, terdapat terdapat beban sebesar 340 TEU dapat dapat dialihkan dari jalan ke kereta api,” jelasnya.

Setijadi mengungkapkan, penggunaan kereta api sebagai moda pengangkutan barang tidak akan merugikan perusahaan-perusahaan transportasi jalan (trucking), namun justru akan meningkatkan produktivitas transporter tersebut. Kemacetan jalan berakibat produktivitas (jumlah trip) truk sangat rendah. Penggunaan kereta api akan bisa mengurangi beban dan kemacetan di jalan, sehingga produktivitas truk tersebut akan meningkat.

Selain itu, ujarnya, mengingat kereta api hanya bisa mengangkut barang antar stasiun maka penggunaan moda kereta api ini juga akan mendorong penggunaan truk. Misalnya, untuk pengangkutan barang dari lokasi pabrik ke stasiun dan sebaliknya.

Namun, tambahnya, upaya pengembangan moda transportasi kereta api untuk pengangkutan barang di Indonesia perlu dibarengi dengan pembangunan infrastruktur pendukung yang memadai, seperti terminal dengan fasilitas/peralatan bongkar muat.

“Selain itu, operasionalisasi kereta api untuk pengangkutan barang harus secara profesional, yang bisa dilakukan melalui kerja sama operasi dengan pihak swasta,” paparnya.

Dia menyebutkan, pengembangan moda transportasi kereta api untuk pengangkutan barang membutuhkan pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, pendanaan untuk pembangunan infrastruktur Indonesia belum memadai. Investasi infrastruktur di Indonesia sekitar 4,5-5% PDB. .(awe/machda)