Angkasa Pura 2

INSA Ingatkan PT Pelabuhan Indonesia II Jangan Khawatirkan Rencana Pembangunan Cilamaya

DermagaKamis, 10 Oktober 2013
cilamaya

JAKARTA (beritatrans.com) – Presiden Asosiasi Pemilik Kapal Nasional Indonesia (INSA/Indonesian National Shipowners Association) Carmelita Hartoto menyatakan mendukung penuh rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya, Karawang, Jawa Barat.

Dukungan itu diberikan, dia menegaskan karena Pelabuhan Cilamaya akan menjadi pilihan bagi operator pelayaran dan pelaku usaha yang selama ini harus berjibaku di Pelabuhan Tanjung Priok, yang sudah sangat padat. Kehadiran Pelabuhan Cilamaya diharapkan mampu mendorong peningkatan produktivitas sekaligus memangkas biaya logistsik.

Pelabuhan Cilamaya, yang diperkirakan menyerap investasi sekitar 50 juta dolar AS, itu akan juga berfungsi sebagai pengurai kemacetan di Jakarta Utara. Karena sampai saat ini, ribuan truk trailer pengagkut petikemas harus berbaur dengan angkutan umum dan kendaraan pribadi pada satu jalur yang sama.

“Karenanya, pelaku usaha dan operator pelayaran desak pemerintah segera merealisasikan pembangunan pelabuhan Cilamaya Karawang Jawa Barat, sebagai pendukung Tanjung Priok yang telah mengalami over capacity. Jangan ditunda-tunda pembangunannya,” tegas Carmelita Hartoto, Rabu (9/10/2013).

Dia mengingatkan kepadatan arus barang, dan rendahnya produktivitas menjadi salah satu penyebab tingginya biaya logistik. Masalah itu menjadi pembicaraan serius negara-negara di kawasan Asia Pasifik pada pertemuan APEC di Bali.

Kendati demikian, Carmelita juga berharap, sambil menunggu Pelabuhan Cilamaya selesai dibangun, terminal petikemas Kalibaru di Priok tahap pertama juga harus diselesaikan sesuai jadwal yaitu 2014.

“Pelabuhan Cilamaya itu masih lama, itu adalah proyek jangka panjang,dan tidak akan mengganggu terminal Kalibaru yang sekarang ini dibangun Pelindo II dan mitranya, Mitsui,”jelas Carmelita.

JANGAN KHAWATIR
Dia juga mengingatkan PT Pelabuhan Indonesia II dan Mitsui, bahwa yang sangat dikhawatirkan bukan Pelabuhan Cilamaya, tapi melambungnya biaya logistik. Untuk memangkas biaya itu, harus mendorong produktivitas, salah satunya ialah merealisasikan Pelabuhan Cilamaya dan Pelabuhan Kalibaru.

“Kenapa harus mengkhawatirkan Pelabuhan Cilamaya, kami pelaku usaha justru khawatir biaya logistik yang terus naik. Makanya, pemerintah dlam hal ini Kementerian Perhubungan ‘pede’ (percaya diri) saja. Nggak usah hiraukan pihak-pihak yang ketakutan dengan rencana Pelabuhan Cilamaya,” jelasnya.

AKSES KE CILAMAYA
Sebelumnya, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Karawang Agus Sundawiana mengemukakan teknis pembangunan Pelabuhan Cilamaya Karawang ialah dengan membuat daratan baru dari dasar laut terlebih dahulu.

Pihaknya bersama pemerintah pusat telah beberapa kali melakukan sosialisasi kepada masyarakat pesisir utara Karawang, terkait dengan rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya. Sebab pembangunan pelabuhan Cilamaya itu akan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat setempat.

Mengenai akses menuju Pelabuhan Cilamaya, dia mengutarakan tidak akan banyak “memakan” lahan pertanian. Sehingga direncanakan pembangunan akses itu dilakukan dengan pembangunan jalan layang dari wilayah Dawuan langsung ke Cilamaya.

“Akses ke Pelabuhan Cilamaya sepanjang sekitar 36 kilometer dengan lebar delapan lajur itu akan dibangun dengan menggunakan jalan layang, dari mulai depan gerbang Tol Dawuan sampai Cilamaya,” kata dia.

Dengan dibangunnya jalan layang sepanjang 36 kilometer itu, kata dia, maka akan meminimalisir terjadinya alih fungsi lahan pertanian. Selain itu, juga akan dibangun jalur kereta api dari Stasiun Bungursari Purwakarta menuju Pelabuhan Cilamaya.(aw).

loading...