Angkasa Pura 2

Mengais Rezeki di Atas Perahu, Lelaki 63 Tahun Itu Tetap Bertahan Hidup

DermagaFriday, 11 October 2013

Bekasibusiness.com — Amin (63) menggeluti jasa perahu angkut di sekitar Banjir Kanal Timur (BKT) sudah setahun yang lalu,  ia dengan ketiga temannya mengumpulkan modal sebesar Rp40.000.000 untuk membuat perahu yang salah satu pemodalnya seorang tentara.

Setiap bulannya penarik perahu berganti orang untuk bagi hasil kepada temannya yang lain. Penghasilan Amin setiap hari sekitar Rp50.000. Perahu penyebarangan sungai ini pelanggan utamanya anak sekolah.

Awalnya, untuk sekali jalan atau menyeberang tiap orang dikenakan biaya Rp500,- tapi sekarang naik menjadi Rp1.000,-. Darti hasil kotor yang diperoleh Amin, dia hanya bisa menikmati jerih payahnya selama sehatri itu  antara Rp20.000- Rp30.000 sehari.

Uang sebesar itu, jelas Amin, digunakan keperluan Amin antara lain, membeli air untuk Rp5.000/2 drigen, membayar sewa kamar mandi Rp1.500/setiap kali mandi.

Tangan dan jemari lincah Amin itu seolah menari diantara kawat penarik secara bergantian menarik dan menahan perahu tatkala ada penumpang menyeberang. Agar tidak perih saat memegang kawat, Amin menggunakan alat bantu dari bekas sandal jepit.

Di saat musim eceng gondok, yang biasanya menghalangi laju perahu, Amin tidak segan-segan membersihkan enceng gondok atau sampah di sekitar perahu untuk memudahkan dan meringankan tatkala menarik perahu.

Amin tidak memiliki tempat tinggal di Jakarta. Dalam kesehariannya aktivitasnya dihabiskan di atas perahu hingga malam menjelang. Ia harus menjaga perahunya karena bila sewaktu-waktu bajir tiba, bisa hanyur dibawa arus.

“Saya kalau tidur ya di perahu ini mba, takutnya banjir. Kalau banjir saya harus naikin kawatnya supaya nggak tenggelem dan bisa beroperasi. Tapi tetep aja penumpang takut naik perahu kalo banjir katanya kaya laut “ ujarnya dengan lokat Betawi.

Perahu angkut yang digunakan Amin sempat tidak beroprasi selama tiga bulan karena musim kemarau karena air di sekitar Banjir Kanal Timur surut. (Titis Nurul Usna /Fikom Universitas Bhayangkara)