Angkasa Pura 2

Jika Ingin Kelola Bandara di Indonesia

Investor Asing Harus Belajar Atasi Pedagang Asongan

BandaraJumat, 15 November 2013
asongan

Jakarta (beritatrans.com) — PT Angkasa Pura II (Persero) mendukung rencana pemerintah membuka pengelolaan bandara bagi investor asing. Namun, kata Direktur Utama Angkasa Pura II Tri Sunoko, investor tersebut mempunyai tantangan untuk menanamkan modalnya sebagai operator bandara di Indonesia. Salah satunya menangani maraknya pedagang asongan yang bebas berada di lingkungan bandara.

Ada tantangan tersendiri bagi investor asing, kata dia, yakni menggabungkan standar internasional dengan masalah sosial dan kultur negara ini. “Mereka harus menyesuaikan diri dengan kultur sini. Di luar negeri tidak ada pedagang asongan. Jadi mereka harus belajar,” ujarnya di Pameran Infrastruktur, Jakarta, Kamis (14/11).

Menurut Tri Sunoko, pengelolaan bandara di Indonesia sangat terbuka untuk ditangani oleh pihak asing. Sedangkan porsi asing dalam kepemilikan aset bandara di tanah air hanya diizinkan sebesar 49% dan mayoritas dikuasai pemerintah.

“Kalau pengelolaan bandara, (asing) boleh saja jika mau 100% dan tidak ada dampaknya. Tapi tetap saja investor harus membebaskan lahan dan membangun (bandara) yang membutuhkan waktu 3-4 tahun,” ujarnya.

Pembangunan dan pembebasan lahan bandara, menurut dia, wajib dilakukan operator asing mengingat keterbatasan kapasitas perseroan maupun rekannya PT Angkasa Pura I (Persero). “Pengelolaan terminal bandara oleh asing dapat meningkatkan kompetisi dan transfer pengetahuan sehingga akan mendorong kinerja pelayanan bagi penumpang bandara,” tambah Tri.

Saat ini, lanjut dia, BUMN ini tengah menjajaki peluang kerja sama dengan operator bandara asing. Setelah sebelumnya Angkasa Pura I menggandeng Incheon International Airport dari Korea dan operator bandara asal India, GVK.(yfent)