Angkasa Pura 2

Memang bukan umumnya pejabat negara ini

Egaliternya Dahlan Iskan (The Untold Story)

FigurRabu, 27 November 2013
dahlan iskan

SATU sore. Langit mendung di langit Bandung. Dahlan Iskan bersama seorang ajudannya masih di Bandara Husein Sastranegara. Dia hendak terbang ke Jakarta. Tetapi cuaca buruk mencegah kepergian mereka.

Hendak naik mobil travel seperti Cipaganti, Xtrans dan sebagainya, tidak ada jadwal yang diinginkan. Padahal malamnya, Menteri BUMN tersebut harus membuka pertemuan sejumlah CEO di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat.

Keputusan harus segera diambil. Menyewa mobil. Tetapi itupun membutuhkan waktu untuk mencari dan memesannya. Pihak pengelola Bandara Husein Sastranegara lalu menawarkan mobil untuk dipakai Dahlan Iskan ke Jakarta. Bos Jawa Pos itu setuju.

Di sini cerita soal egaliternya Dahlan Iskan dimulai. Tak seperti pejabat lainnya, Dahlan memilih duduk di kursi di samping sopir. Sedangkan ajudannya justru duduk di kursi belakang. Padahal kalau kebiasaan pejabat, inginnya duduk di kursi belakang, lebih leluasa, lebih nyaman dan mungkin lebih aman.

Dengan anak muda pegawai PT Angkasa Pura II, yang menjadi pengemudi mobil itu, Dahlan memilih bercakap-cakap. Sharing dan memberikan nasihat. Tak terlihat sedikit pun lelah, bahkan di sepanjang perjalanan sejak kendaraan tersebut berangkat dari Kota Bandung, Dahlan tak memejamkan mata sedikit pun.

Ketika memasuki tol Cikampek, Dahlan Iskan meminta mobil masuk ke Rest Area Km42, Karawang. Dia lalu shalat di masjid tersebut. Setelah shalat, tak dinyana mantan Direktur Utama PLN tersebut menghampiri tukang penjaja gorengan. Dia membeli tempe, tahu dan singkong goreng. Pedagang gorengan mulanya tak tahu bahwa pembeli satu ini merupakan pejabat. Dia baru tersadar ketika sejumlah orang meminta foto bareng dengan Dahlan Iskan.

Dia lalu naik kembali ke mobil. Dahlan Iskan tak sungkan atau gengsi makan gorengan tersebut bersama sopir dan ajudannnya. Percakapan kembali dilanjutkan. Seperti sebelumnya, dia tak juga tidur untuk melepas lelah.

Begitu memasuki pelataran Hotel Kempinski saat hari beranjak malam, sudah banyak orang di lobby untuk menyambut kedatangan Dahlan. Dahlan meminta pengemudi yang masih kuliah S2 di Universitas Trisakti itu untuk memarkirkan kendaraan, lalu si sopir ditunggu di lobby. Ternyata Dahlan memang benar belum beranjak dari lobby ketika pengemudi datang setelah memarkirkan kendaraan.

“Saya diajak masuk ke ruang pertemuan. Saya berjalan di belakang Pak Dahlan. Saya kayak pejabat juga, ikut disalami oleh para CEO itu. Perlakuan kepada saya di dalam ruang pertemuan juga menjadi istimewa. Berkah betul ikut Pak Dahlan,” ujar Mabruri JW, pengemudi sekaligus pegawai PT Angkasa Pura II itu saat menyeritakan pengalamannya bersama sosok pejabat tersebut dua pekan lalu itu.

Dahlan memang bukan umumnya pejabat negara ini. Bisa saja, dia langsung masuk tanpa mempedulikan pengemudi yang telah mengantarnya dari Bandung. Toh pengemudi itu merupakan pegawai BUMN di bawah asuhannya.

Begitu pula ketika di mobil, dia bisa memilih tidur di kursi belakang. Tetapi dia justru memilih membangun silaturahmi walau dengan pegawai baru di BUMN. Sekali lagi dia menghargai pegawai yang harusnya bisa pulang ke rumah setelah bekerja, tetapi malah menyopirinya selama sekitar 3 jam dari Bandung ke Jakarta. (agus wahyudin).