Angkasa Pura 2

Airport Hope (2)

PT Angkasa Pura II Investasikan Rp28,2 Triliun untuk Kembangkan 10 Bandara

BandaraKamis, 28 November 2013
rafi bersama beritatrans.com

BOGOR (beritatrans.com) – Dari 13 bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II, hanya dua saja yang keterisian dan pemakaian masih di bawah kapasitas. Sebanyak 11 bandara lainnya membutuhkan pengembangan.

“Hanya Bandara Halim Perdanakusuma dan Sultan Iskandar Muda saja yang masih di bawah kapasitas,” ungkap Direktur Pengembangan Kebandarudaraan & Teknologi PT Angkasa Pura II Salahudin Rafi dalam sharing session di Rapat Kerja Beritatrans.com dan Bekasibusiness.com, beberapa waktu lalu.

Dalam kondisi seperti itu, dia mengemukakan sekuat apapun strategi dan skenario yang digelar oleh perusahaan, akan sulit mencapai level pelayanan memuaskan. Karenanya, di bandara terlihat penumpukan calon penumpang dan begitu dekatnya headway pergerakan pesawat.

Berbasis kepada tingginya demand dan kondisi eksisting bandara, Rafi mengutarakan manajemen PT Angkasa Pura II mendesain dan merealisasikan program pembangunan dan pengembangan 10 bandara sejak tahun 2007. Program tersebut tidak akan pernah berhenti karena mengikuti dinamika pertumbuhan pergerakan pesawat, penumpang dan kargo. Lihat berita http://beritatrans.com/2013/11/28/market-tumbuh-pesat-maskapai-beli-2-000-pesawat/

Bandara yang diprogramkan dibangun dan dikembangkan yakni Kualanamu, Deli Serdang, Soekarno – Hatta, Tangerang, Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang, Sultan Thaha, Jambi, Depati Amir, Pangkal Pinang, Husein Sastranegara, Bandung, Supadio, Pontianak, dan Silangit, Tapanuli Utara.

Bandara Kualanamu dibangun dan dikembangkan dengan dana Rp2,5 triliun (land side) sejak tahun 2007 hingga 2014, Soekarno Hatta dianggarkan Rp26,2 triliun dengan tempo penyelesaian tahun 2012-2016, Sultan Syarif Kasim II dianggarkan Rp803,73 miliar tahun 2009-2014, Sultan Mahmud Badaruddin II Rp202,9 miliar selama tahun 2012-2014.

Selain itu, Bandara Raja Haji Fisabilillah dianggarakan Rp378,256 miliar dengan rentang waktu 2009 – 2014, Sultan Thaha Rp444,2 miliar tahun 2011-2014, Depati Amir Rp466 miliar tahun 2011-2014, Husein Sastranegara Rp320,8 miliar tahun 2013-2014, Supadio Rp1,73 triliun tahun 2011-2016, dan Silangit Rp264 miliar tahun 2013-2015. “Total anggaran untuk rentang waktu tahun 2013 -2016 saja Rp28,2 triliun,” jelas Salahudin Rafi.

PERUBAHAN PARADIGMA
Paralel dengan pembangunan fisik, dia mengungkapkan manajemen PT Angkasa Pura II secara kesisteman berupa perubahan paradigm bandara dari perspektif tradisional ke perspektif baru. Perubahan tersebut yakni dari city airport menjadi airport city, dari passengers visitors employee menjadi customers transumers, dari space & infrastrukcture menjadi real estate development and management, serta dari monopolistic government menjadi competition private sector & public private partnership.

“Intinya paradigma di pengelola dan semua pemangku kepentingan patut diubah mengikuti dinamika bandara kelas dunia. Kita harus menuju ke sana. Tidak boleh lengah,” jelas mantan Direktur Operasional Kebandarudaraan PT Angkasa Pura II itu.

SUPPORT
Perubahan paradigma dan program pembangunan tadi, dia mengemukakan membutuhkan support dari semua pihak, baik pemerintah, legislatif, kalangan dunia usaha, maupun publik. “Prinsipnya hanya satu bahwa kita ini Indonesia. Hanya ada Indonesia di dada. Karena itu berpikir, bersikap dan berprilaku semata-mata untuk kesejahteraan dan kemakmuran negara serta rakyat,” tegasnya.

Salahudin Rafi mengingatkan Indonesia masih bisa mengeksplorasi lagi benefit dari pelayanan kebandarudaraan. Marketnya masih terbuka lebar di dunia. “Untuk trafik penumpang, Indonesia baru 2,69 persen. Sedangkan di market dunia trafik kargo, Indonesia baru 0,57 persen,” tuturnya.

Karenanya, dibutuhkan dukungan kuat dari semua komponen bangsa agar market Indonesia bisa lebih besar lagi. “Dukungan itu termasuk dalam berbagai kebijakan dan regulasi,” cetusnya. (aw).

loading...