Angkasa Pura 2

Dipicu Fuel Surcharge

Harga Tiket Pesawat Bakal Naik Lagi

KokpitJumat, 10 Januari 2014
pesawat di bandara

JAKARTA (beritatrans.com) Renacan kenaikan harga tiket yang beberapa waktu berkembang dalam waktu tidak lagi lagi akan terwujud. Hal ini sejalan dengan segera disetujuinya usulan penyertaan fuel surcharge atau  besaran biaya bahan bakar yang ditetapkan sebuah maskapai penerbangan.

“Kami segera menyetujui usulan penyertaan fuel surcharge yang telah ditiadakan sejak  tahun 2010 lalu. Saya sudah usulkan ke Pa Menteri Perhubungan, tinggal menunggu ditandatangani Pak Menteri. Saya kira nggak lama lagi ditandatangani,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Hery Bakti Singayudha Gumay, Kamis (9/1/2014).

Menurut dia, pemerintah nantinya tidak akan merevisi aturan yang ada saat ini yaitu KM No 26 Tahun 2010 tentang mekanisme formulasi perhitungan dan penetapan tarif batas atas penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri.

“Tidak ada revisi, kita hanya akan membuat aturan tambahan mengenai adanya fuel surcharge,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, fuel surcharge yang akan diterapkan adalah biaya tambahan sebesar Rp50.000 per penumpang untuk stiap penerbangan selama satu jam. Setiap kelipatannya, maka akan dikenakan sebesar Rp50.000 lagi.

Penerapan fuel surcharge sebelumnya telah diusulkan oleh maskapai penerbangan. Hal ini disebabkan karena harga BBM yang telah melonjak hingga melebihi Rp10.000 per liternya. Sementara mereka tidak bisa menaikkan harga tiket melebihi tarif batas atas yang telah ditentukan pemerintah.

Ketua Umum Indonesia National Air Carrier Association (INACA), Arif Wibowo menegaskan, kenaikan harga tiket di tahun 2014 berkaitan dengan menguatnya nilai dolar terhadap Rupiah. Kementerian Perhubungan juga sudah menyetujui penyesuaian kenaikan biaya operasional yang diajukan oleh Indonesia National Air Carrier Association (INACA).

“Penyesuaian biaya operasional (operation surcharge) ini akan dibebankan ke tarif dasar tiket pesawat, dan akan berlaku mulai awal tahun 2014. Jadi, wajar karena keadaan maskapai yang saat ini sudah semakin terhimpit,” jelasnya.(machda)

 

 

 

loading...