Angkasa Pura 2

Gunakan Wings Air dari Batam ke Silangit

Naik Pesawat dengan 4 Nenek Bersandal Jepit

KokpitRabu, 15 Januari 2014
lion-aw

SILANGIT – Setelah bertahun-tahun, akhirnya berkesempatan naik pesawat baling-baling (propeler). Selama hampir 2 jam terbang dari Bandara Batam ke Bandara Silangit, Sumatera Utara, Rabu (15/1/2014) pagi.

Pesawat jenis ATR 72 500 yang dioperasikan Wings Air berada di appron Bandara Batam. Penumpang satu-persatu naik tangga pesawat. Di antara mereka, terdapat empat opung (nenek). Keempat nenek ini cukup menarik perhatian karena selain membawa gembolan (barang yang dibawa menggunakan kain panjang), mereka mengenakan sandal jepit.

Ada 21 penumpang di dalam pesawat tersebut.  Ketika baling-baling berputar, suara khas propeler terdengar. Pramugari berkostum merah dan stoking hitam, memperagakan pemakaian peralatan keselamatan. Tentu saja simulasi itu dengan mengikuti suara dari pramugari yang satunya lagi.

Opung-opung itu hanya tersenyum plus menganggukan kepala  melihat peragaan sekaligus mendengar instruksi simulasi dalam dua bahasa yakni Indonesia dan Inggris itu.

opung

Pesawat segera lepas landas. Saya teringat ketika terbang dengan CN-235 bolak-balik Bandara Halim Peranakusuma – Bandara Husein Sastranegara serta Bandara El Tari, Kupang – Bandara Maumere. Memang ada eksotisme tersendiri naik pesawat berbaling-baling.

Seperti halnya penerbangan sebelumnya menggunakan Lion Air dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Batam, terbang dengan Wings Air ini juga tanpa disediakan makanan dan minuman gratis. Bila mau makan dan minum maka harus bayar. Beruntunglah saya yang sempat sarapan pagi di sebuah kafe diTerminal IB Bandara Soekarno-Hatta.

Setelah terbang sekitar 2 jam, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan Bandara Silangit. Ketika hendak turun, satu opung kesulitan mengambil tas dari bagasi. Saya membantu mengambilkannya.

Nenek itu lalu banyak mengucapkan sesuatu. Saya hanya bisa tersenyum dan mengangguk, tanpa membalas dengan perkataan. Bukan tidak sopan. Tetapi karena nenek itu menggunakan bahasa Batak, yang 100 persen tak saya mengerti. Saya hanya menafsirkan bahwa nenek itu berterima kasih karena itu cukup rasanya ucapan itu saya balas dengan senyuman dan anggukan kepala.

Menariknya, opung itu mirip kebiasaannya dengan almarhumah nenek saya yang rajin mengunyah sirih. Saya tahu opung itu sebelumnya menggunakan sirih  karena ada aroma yang terhirup ketika nenek tersebut berbicara kepada saya. (agus wahyudin).

loading...