Angkasa Pura 2

Ditjen Hubla Uji Petik Puluhan Kapal Roro Tua

DermagaSelasa, 21 Januari 2014
bobby

JAKARTA (beritatrans.com) – Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Laut Capt. Bobby R Mamahit menyatakan sudah memerintahkan uji petik terhadap 32 kapal Roro. Pilihan terhadap kapal tersebut antara lain berbasis kepada usia di atas 30 tahun.

“Memang benar bahwa usia tidak berkaitan dengan masalah kelaikan laut. Tetapi kami hanya ingin uji petik itu dapat memberikan rekomendasi bahwa aspek keselamatan tetap terjamin,” ungkap dirjen kepada beritatrans.com, Selasa (21/1/2014) pagi.

Uji petik juga difokuskan kepada kapal-kapal yang sudah dimodifikasi. “Seiringan dengan tuntutan market memang banyak kapal Roro yang dimodifikasi menjadi 2 in 1 atau bahkan 3 in 1. Kondisi ini perlu diwaspadai karena menyangkut stabilitas kapal. Kasus terakhir yakni kapal nyaris tenggelam di Pelabuhan Tanjung Priok, ada dugaan kemungkinan persoalan stabilitas kapal menjadi salah satu penyebabnya,” cetusnya.

Bobby menjelaskan uji petik terhadapĀ kapal-kapal Ro Ro digelar secara acak di lima pelabuhan sejak 17 Januari 2014. Pelabuhan tersebut yakni Tanjung Priok, Jakarta, Tanjung Perak, Tanjung Emas Semarang, Merak, dan Pelabuhan Lembar.

Tim Uji petik yang terdiri dari Marine Inspector Kantor Pusat Ditjen Hubla dan Tim Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) masih memeriksa terhadap pemenuhan persyaratan kelaiklautan kapal-kapal Ro Ro secara acak terhadap 11 kapal penumpang di 3 pelabuhan yaituPelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Emas Semarang dan Merak, Banten.

PERSYARATAN KELAIKAN
Dari Uji petik yang dilakukan secara acak pada 11 kapal Roro tersebut, tim uji petik hanya menemukan kekurangan pemenuhan persyaratan kelaiklautan kapal yang bersifat minor. Pada kesempatan tersebut, Tim uji petik tidak menemukan pelanggaran atau kekurangan pemenuhan terhadap standar keselamatan kapal yang menyebabkan kapal tersebut tidak dapat melanjutkan pelayarannya.

Namun demikian, tim uji petik tetap memberikan sejumlah catatan dan
rekomendasi untuk segera dilengkapi dan diperbaiki. Sebagai contoh, pada saat uji petik di Pelabuhan Tanjung Priok, Tim Uji Petik menemukan masih adanya pintu kedap air pada main deck/car deck tidak dapat ditutup dengan rapat/kedap, ramp door pada buritan kapal tidak tertutup dengan baik.

Selain itu, rescue boat tidak dilengkapi dengan poster cara penurunan serta pintu menuju kamar mesin tidak dilengkapi daun pintu. Begitu juga di Pelabuhan Merak, Tim Uji Petik menemukan kekuarangan yang bersifat minor seperti kurangnya familiarisasi terhadap penggunaan alat-alat kebakaran dan keselamatan.

Terhadap semua kekurangan yang ditemukan tersebut, tim memberikan sejumlah catatan dan rekomendasi untuk perbaikan ataupun untuk segera melengkapinya sehingga kapal-kapal dimaksud dapat melanjutkan pelayarannya. (aw)

 

loading...