Angkasa Pura 2

Ditjen Perhubungan Laut Terbitkan Lagi Maklumat Pelayaran

DermagaSelasa, 21 Januari 2014
komisaris utama PT ASDP Indonesia Ferry

JAKARTA (beritatrans.com) – Selain melihat kesiapan operator kapal, dalam menghadapi cuaca esktrem dan gelombang tinggi yang bisa mengancam keselamatan pelayaran di seluruh perairan Indonesia, Ditjen Perhubungan Laut secara rutin juga mengeluarkan Maklumat Pelayaran.

“Maklumat ini dikeluarkan sebagai tindak lanjut peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap awal minggu yang menginformasikan terjadinya angin kencang, hujan lebat disertai petir, serta gelombang tinggi di Perairan Indonesia,” jelas Dirjen Perhubungan Laut, Capt. Bobby R Mamahit kepada beritatrans.com, Selasa (21/1/2014).

Maklumat Pelayaran tersebut ditujukan kepada para Syahbandar, Kepala Kantor Pelabuhan Batam dan Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan, Kepala Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai, Kepala Distrik Navigasi serta Kepala Kantor Stasiun Radio Operasi Pantai seluruh Indonesia.

“Intinya adalah memerintahkan agar para aparat Perhubungan Laut di lapangan untuk mengutamakan keselamatan dalam kegiatan pelayaran dan selalu siaga jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan di laut,” jelasnya.

Dalam Maklumat Pelayaran Nomor. 38/I/DN-14 tgl 20 Januari 2014, disampaikan bahwa pada 20 Januari 2014 s.d. 26 Januari 2014 akan terjadi angin kencang dan hujan lebat yang disertai petir dan gelombang tinggi di perairan Indonesia.

Rinciannya, gelombang tinggi 2,0 m s.d 3,0 m akan terjadi di perairan Aceh, perairan Sulawesi Tengah, perairan utara Gorontalo, perairan Sulawsi Utara, perairan Kep. Sangihe, laut Buru, laut Maluku, laut Halmahera, laut Banda bagian utara, perairan Ambon, perairan Sorong dan perairan Manokwari.

Gelombang tinggi 3,0 m s.d 4,0 m akan terjadi di perairan Pulau Enggano, perairan Lampung, selat Sunda bagian selatan, perairan selatan Banten hingga Jawa Tengah, laut Andaman, laut Jawa bag barat, perairan selatan Jawa Timur, perairan Kalimantan bagian selatan, perairan Bali dan Nusa Tenggara Barat, laut Timor, perairan Sulawesi Tenggara, perairan Kep. Talaud, Perairan Kep. Kai, Kep. Aru, Laut Aru, perairan Kep. Talaud, Perairan Morotai, Samudera Pasifik bagian utara Halmahera hingga bag utara Papua.

Gelombang tinggi 4,0 m s.d 5,0 m akan terjadi di laut Cina selatan, laut Natuna, Perairan Kep. Natuna, Perairan Kep. Anambas, Perairan Kep. Riau, Perairan Jambi, selat Karimata, Perairan Kep. Bangka Belitung, Perairan Kalimantan bagian barat, laut Jawa, Perairan Masalembo, selat Makassar bagian selatan, Perairan Sulawesi Selatan bag selatan, Laut Sulu, Perairan selatan Pulau Sumba, Perairan Kupang, Laut Sawu, Perairan Pulau Rote, Perairan Nusa Tenggara Timur, Laut Flores, Laut Banda bagian selatan, Perairan Kep. Babar dan Kep. Tanimbar, Laut Arafuru, Perairan Timika, Perairan Pulau Yos Sudarso dan Perairan Merauke.

PERSETUJUAN BERLAYAR
Terkait dengan hal tersebut, Dirjen Hubla menginstruksikan kepada para Syahbandar di seluruh Indonesia agar dalam menerbitkan Surat Persetujuan Berlayar bagi kapal-kapal untuk selalu mengutamakan dan memperhatikan faktor-faktor keselamatan pelayaran.

“Selain itu, tetap berpedoman pada : kelaiklautan kapal, kelengkapan alat keselamatan pelayaran seperti sekoci penolong,
rakit penolong (inflatable liferaft) dan baju penolong harus dipastikan dapat berfungsi dengan baik dan jumlahnya cukup, radio komunikasi harus berfungsi baik, dan jumlah penumpang/muatan tidak melebihi kapasitas yang diizinkan,” jelas Bobby.

Para Syahbandar juga dilarang mengizinkan kapal berlayar bila tidak memenuhi hal-hal tersebut. Bagi para kepala Distrik Navigasi maupun Kepala Stasiun Radio Pantai juga diperintahkan untuk selalu siaga pada radio frequency marabahaya. Bagi para kepala Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai agar selalu siaga jika sewaktu-waktu dikerahkan dalam menghadapi keadaan darurat di laut.

Dengan dikeluarkannya Maklumat Pelayaran ini diharapkan agar segenap aparat perhubungan laut di lapangan dapat lebih meningkatkan pengawasan terhadap kapal-kapal guna mewujudkan Keselamatan Pelayaran.

Namun demikian, peran serta operator kapal dan pengguna jasa transportasi laut juga sama pentingnya sebab sekali lagi, Keselamatan Pelayaran merupakan kebutuhan mutlak dan tanggung jawab bersama dan hanya dapat terwujud denga sinergi antara regulator (pemerintah), operator dan user (pengguna jasa). (gis/aw).

loading...