Angkasa Pura 2

Pulau Kembang, Pulaunya Kerajaan Kera di Banjarmasin

DestinasiMinggu, 26 Januari 2014
Pulau Kembang-2

MENIKMATI uniknya ‘Pasar Terapung’ — sebuah pasar tradisional di aliran Sungai Barito, kurang lengkap jika tidak melanjutkan perjalanan ke Pulau Kembang. Pulau yang berada di tengah-tengah sungai Barito, masuk Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Pulau yang letaknya tak jauh dari Pasar Terapung itu dihuni banyak kera dengan vegetasi hutan belukar rawa, dan  banyak pohon nipah.

Kalau beruntung kita bisa bertemu dengan Bekantan – monyet ekor panjang berwarna kuning dengan mocong hidung yang panjang. Di Pulau Kembang ini kita bisa menikmati dari dekat koloni kera yang jumlahnya mencapai ratusan bahkan diperkirakan ribuan.

Pulau Kembang adalah sebuah delta seluas 60 Ha yang terletak di tengah Sungai Barito dan merupakan habitat kera ekor panjang (monyet) dan beberapa jenis burung. Pada tahun 1976, pulau ini ditetapkan sebagai hutan wisata berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 788/Kptsum12/1976.

Pulau ini sendiri dikelola oleh Balai Konservasi sumber Daya Alam (BKSDA)  Kalimantan Selatan, Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan. Di pulau ini kita bisa menikmati suasana pulau ditengah sungai. Pulau ini berada tidak jauh dari Pelabuhan Trisakti, dimana para kapal-kapal besar sebelum masuk ke Pelabuhan Trisakti harus melewati pulau kerajaan para kera ini.

Pulau Kembang-1

Diobrak-abrik Monyet

Hanya 10 menit dari Pasar Terapung, Anda sudah bisa sampai ke Pulau Kembang. Namun jangan terkejut bila sekitar 100 meter menjelang dermaga pulau ini perahu Anda disambut para kera. Mereka bisa berenang saling balapan diantara kawanan kera hanya untuk mencari makanan yang kita bawa. Jangan heran bila tas yang kita bawa dirogohnya atau tas plastik dirusak mereka disangka ada makanan bagi mereka. Awalnya mengerikan, tapi mereka tidak galak karena kawanan kera ini sudah terbiasa dengan manusia.

Disini para pengunjung bisa bercengkrama dengan kera-kera yang sudah terbiasa mencuri makanan yang dibawa pengunjung. Sepertinya kera disini sudah terbiasa dengan manusia dan dengan makanan yang diberi oleh pengunjung. Suasana di Pulau Kembang begitu ramai dengan hiruk pikuk suara monyet yang saling berebutan kacang kulit, pisang yang dibawa pengunjung.

Di sisi lain, ada juga pengunjung yang sibuk berlarian kesana-sini ketakutan karena didekati oleh monyet-monyet. Primata yang memiliki hubungan kekerabatan paling dekat dengan manusia ini hidup di Pulau Kembang yang bertanahkan rawa dan dikelilingi Sungai Barito yang berarus. Mereka sepertinya benar-benar memanfaatkan makanan yang diberi pengunjung atau pengelola.

Pulau Kembang tidak memiliki vegetasi yang beragam untuk monyet-monyet itu menyambung hidup. Monyet-monyet inilah yang menjadi daya tarik Pulau Kembang ini, semoga primata ini tidak punah dan tetap terjaga kehidupannya sehingga pesona pulau ini masih bisa dinikmati oleh pengunjung lainnya di lain kesempatan.

Pulau Kembang merupakan salah satu objek yang bisa Anda kunjungi setelah pasar terapung. Pulau seluas 60 hektar ini telah dijadikan hutan wisata oleh pemerintah. Tempat ini sangat mudah dikunjungi, karena banyak perahu yang dapat mengantarkan Anda menuju ke tempat ini. Pulau ini dihuni oleh kera ekor panjang.

Banyak cerita yang menjelaskan asal muasal tempat ini. Salah satu ceritanya, yaitu Pulau Kembang berasal dari kapal China, Law Kem Bang, yang tersesat dan kemudian  dihancurkan oleh orang Biaju pada tahun 1750-an atas perintah Sultan Banjar. Puing-puing bekas kapal tersebut lalu ditumbuhi pepohonan dan berubahlah menjadi sebuah pulau yang kemudian didiami sekelompok kera. Menurut keyakinan masyarakat setempat, kera tersebut berasal adalah penjelmaan makhluk halus.

Pulau Kembang-3

Leluhur Orang Tionghoa

Dari cerita tersebut, masyarakat Tionghoa membangun sebuah kelenteng dan arca Hanoman di Pulau Kembang. Akibatnya, banyak masyarakat Tionghoa yang berziarah ke tempat ini untuk mendoakan arwah nenek moyang leluhurnya. Selain itu, menurut mitos, di pulau ini terdapat kera yang sangat besar dan merupakan raja dari para kera.

Selain menjadi tempat ribuan kera, di tempat ini ternyata juga ada sebuah kuil yang biasanya digunakan oleh para pengunjung untuk meletakkan sesajen atau melaksanakan nadzarnya. Pulau ini sering dihubungkan dengan kejadian-kejadian mistis. Banyak para pengunjung yang mengaku mengalami hal-hal mistis seperti melihat jembatan yang menghubungkan pulau Kembang dengan daratan; melihat sosok pangeran berbaju putih mengendarai kuda melintas di atas jembatan itu, dan lain sebagainya.

Jika takut dengan monyet, disarankan Anda untuk tidak menginjakan kaki di dermaga pulau ini. Setibanya Anda di dermaga, Anda akan disambut oleh puluhan monyet yang meminta makanan. Harga tiket masuk ke pulau ini adalah Rp5.000 untuk wisatawan domestik dan Rp25.000 untuk wisatawan mancanegara.(machda)

loading...