Angkasa Pura 2

Bangun Kereta Super Cepat Shinkansen Jakarta-Surabaya Butuh Waktu Sangat Panjang

EmplasemenKamis, 30 Januari 2014
ka bombardier

JAKARTA (beritatrans.com) — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai rencana pembangunan kereta api super cepat Shinkansen Jakarta-Surabaya akan memakan waktu cukup panjang.

Realisasi mega proyek ini membutuhkan investasi dengan nilai fantastis hingga ratusan triliun, ungkap Dirjen Anggaran Kemenkeu, Askolani, kamis (30/1).

Ia mengungkap implementasi rencana pembangunan proyek kereta api Shinkansen sepanjang 1.020 kilometer (km) antara lain, rute Jakarta-Bandung 160 km, lalu tambah jarak ke Surabaya sepanjang 860 km tidak mudah.

“Tidak segampang itu, apalagi uangnya banyak dan butuh pinjaman jangka panjang. Prosesnya bisa lebih panjang dari pembangunan Mass Rapid Transit (MRT),” kata dia.

Ia menambahkan sebelum masuk tahap pembangunan, proyek ini harus melalui fase studi kelayakan (feasibility study/FS) yang biasanya membutuhkan waktu satu-dua tahun.

Lamanya FS ini sama seperti proyek besar lain, yakni Jembatan Selat Sunda (JSS). Setelah FS rampung, maka tahap selanjutnya adalah menggodok dari sisi pendanaan.

“Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu melihat dari sisi utang, beban, dan bunganya. Dilihat lagi skemanya mau seperti apa Kerja sama Pemerintah Swasta (KPS) atau melalui business to business. Ini semua tergantung hasil studinya karena paling baik sih dibantu oleh swasta serta BUMN,” paparnya.

Meski begitu, dia belum bersedia menjelaskan secara lebih rinci apakah dana pembangunan kereta api Shinkansen senilai Rp 53 triliun untuk rute Jakarta-Bandung dan total investasi Jakarta-Surabaya Rp 250 triliun bisa menggunakan dana APBN.

“Belum tahu, masih jauh karena pandangan ini masih awal dan proyeknya diperkirakan baru akan selesai 2020. Kita harus lihat dulu kelayakannya, planning-nya. Tapi yang pasti sesama pemerintah harus saling bicara soal proyek ini,” tutur Askolani.

Terkait tarif kereta api Shinkansen yang diusulkan Rp 200 ribu per orang, Askolani mengatakan jika moda transportasi tersebut menyasar segmen kalangan menengah ke atas. Namun dia belum bisa memastikan apakah pemerintah akan memberikan subsidi bagi para penumpang yang juga pebisnis. (yfent)