Angkasa Pura 2

INACA Nilai Wamenkeu Tidak Faham Bisnis Penerbangan

KokpitJumat, 7 Februari 2014
merpati-isi avtur

JAKARTA (beritatrans.com) — Asosiasi Perusahaan Penerbangan Sipil Indonesia (INACA) menilai Wakil Menteri Keuangan tidak paham Industri penerbangan.

Hal itu dikatakan Ketua INACA Arif Wibowo, dan Ketua Penerbangan Berjadwal INACA, Bayu Sutanto di Jakarta, Kamis (6/2/2014) malam.

“Komentar Wamenkeu, Bambang Sumantri Brojonegoro tentang dampak kurs US dolar 12000-an untuk airline tidak proporsional,” tandasnya.

Menurut Arif dan Bayu, karena harga tiket Domestik klas Ekonomi diatur oleh pemerintah melalui KepMenhub no 26 tahun 2010 dengan asumsi harga avtur dan kurs US dolar masing-masing senilai Rp10.000,-

“Artinya harga tiketnya dibatasi atau di peg tidak boleh melebihi batas atas (ceiling price) yang ditetapkan melalui KepMenhub tersebut,” paparnya. Sementara saat ini kurs US dolar dikisaran Rp12.000 lebih dan harga Avtur dikisaran Rp13000-an yang artinya Pemerintah tidak bisa membatasi atau mem-peg nya seperti hanya harga tiket tersebut.

“Jadi, Wamenkeu, tidak perlu jadi ahli keuangan atau monster untuk menganalisa beban airlines akibat pergerakan kurs Usd dan harga Avtur yang ternyata tidak bisa dibatasi oleh Pemerintah. Jadi gak ada hubungannya dengan efisiensi seperti dinyatakan oleh Wamenkeu,” papar keduanya.

Dalam ceteris paribus yang sama dimana harga tiket tidak dibatasi atau ditetapkan dengan asumsi kurs US dolar Rp12000 dan harga avtur Rp13000 maka efisiensi baru menjadi faktor yang menentukan suatu bisnis untung atau rugi.

 

Lambat
Sebelumnya INACA menilai pemerintah lamban dalam melakukan penyesuaian tarif batas atas tiket pesawat. Padahal, saat ini depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sudah mencapai 25 persen sehingga membebani ongkos operasi maskapai.

“Masalah nilai tukar rupiah ini masih menjadi isu utama di dunia penerbangan karena lebih dari 70 persen struktur biaya perusahaan penerbangan dipengaruhi oleh dolar,” kata Chairman Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Arief Wibowo.

Arief mengatakan, pemerintah selama ini lamban dalam mengatasi kesulitan yang ditanggung oleh maskapai. Sudah lebih dari enam bulan kondisi rupiah terus melemah, namun keputusan untuk menaikkan tarif batas atas tiket pesawat tak kunjung dikeluarkan. “Dengan manage penerbangan di low-season, peak-season, dan high-season, kami harus dinamis memanajemen harga.”
Saat ini tarif atas tiket pesawat masih dipatok berdasarkan kesepakatan pada 2010 yakni dengan nilai tukar rupiah Rp10.000 per dolar Amerika Serikat. Padahal, kini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sudah di atas Rp12.000. “Kami harapkan pemerintah sepakat menyesuaikan tarif atas minimal 20 persen di atas yang diberlakukan saat ini.”

Sekretaris Jenderal INACA, Tengku Burhanudin, juga menyayangkan sikap pemerintah ini. Menurut dia, saat ini biaya yang harus ditanggung maskapai meningkat 25 persen┬ádalam rupiah per penerbangan. “Bagaimana kami mau menutupi beban ini. Kami minta ke Pak Menteri Perhubungan untuk segera menetapkan nasib kami,” ujarnya.

Kementerian Perhubungan hingga saat ini belum memberi persetujuan atas usulan tersebut. Pemerintah hanya memberikan restu untuk penyesuaian biaya operasional yang dihitung per kilometer akibat lonjakan harga avtur dan bahan baku lainnya (fuel surcharge).(machda)

loading...