Angkasa Pura 2

Dari APBN

Belum Kelar Urusan Duit Rp1 Triliun untuk Biayai FS Jembatan Selat Sunda

KoridorRabu, 12 Februari 2014
jembatan selat sunda

JAKARTA (beritatrans.com) – Proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) sepanjang 29 Km dengan investasi senilai Rp 200 triliun masih belum dapat dipastikan waktu dimulainya pekerjaan. Soalnya, pembiayaan feasibility Study (FS) atau uji kelaikan pembangunan jembatan belum diputuskan.

Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto mengemukakan pembiayaan FS masih bermasalah. Pembiayaan lewat APBN itu belum tuntas diputuskan. Karenanya, akan dirapatkan dengan dipimpin ketua dewan pengarah yakni Menko Perekonomian. Selasa (11/2/2014).

“Masih bermasalahnya. Sebenarnya dulu konsepnya adalah pakai uang APBN semua, okelah sampai hari ini belum ada. Tarik ulurnya belum selesai,” jelas Djoko Kirmanto, Selasa (11/2/2014).

Berdasarkan pernyataan konsultan dan perencana desain proyek JSS, Profesor Wiratman Wangsadinata, mengemukakan untuk tahap studi kelaikan membutuhkan biaya hingga Rp1 triliun. Wiratman mengemukakan proyek jembatan yang dibangun konsorsium PT Graha Banten Lampung Sejahtera( GBLS) harus ada BUMN atau unsur pemerintahnya.

Mengenai konstruksi jembatan, dia mengemukakan terdiri dari 5 seksi. Untuk seksi 1,3,dan 5 merupakan jembatan yang disebut jembatan beton balance yang memiliki panjang rata-rata sekitar 6 Km. Sedangkan untuk seksi 2 dan 4 berada di tengah-tengah. Pada titik di seksi itulah ada konstruksi jembatan bentang panjang untuk bisa melewati palung dalam.

Selain bisa melewati palung dalam, pada seksi ini dirancang bisa dilewati kapal-kapal besar. Bentang tengahnya 2,2 Km, panjangnya total 3,8 Km masing-masing seksi.

2 MASALAH TEKNIS
Namun urusan kontruksi tersebut bukan persoalan gampang. Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum Hediyanto W Husaini menyatakan, setidaknya terdapat dua masalah teknis dalam pembangunan JSS. Yakni ketersediaan pasokan beton dan keterbatasan alat.

“Kita harus memperhitungkan kita akan ada suplai beton yang begitu besar 7,7 juta meter kubik, artinya kita harus siapkan,” ujar Hediyanto di sela Indonesia-Japan Conference on Construction. Kebutuhan beton untuk membangun JSS terbilang besar. Sejauh ini belum ada produsen dalam negeri yang mampu menyediakan beton dalam jumlah tersebut.

Tidak hanya keterbatasan beton, belajar dari pengalaman pembangunan Jembatan Suramadu, dia memastikan, proyek JSS juga akan mengalami kendala yang sama yaitu keterbatasan alat. Tidak ada alat pengecor untuk pembangunan konstruksi lepas pantai atau biasa disebut traveler. “angankan di Indonesia, di Asia pun susah mencari peralatan itu,” cetusnya. (aw).