Angkasa Pura 2

Hikayat Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (3)

Kondektur yang Bersyukur

KoridorTuesday, 25 February 2014

BEKASI (beritatrans.com) – Pukul 04.00, Rahmat harus pergi dari rumah kontrakan di kawasan Cibitung, Kabupaten Bekasi. Nyaris setiap pagi ‘ritual’ itu dilakukannya.

Kepergiannya dari rumah, tentu untuk mencari nafkah untuk diri dan keluarga. Dia hanya sendiri di satu petak kontrakan. Istri dan ketiga anakya berada di Serang, Banten. Dua minggu sekali, pria itu pulang menemui keluarga.

Beruntung Rahmat, tempat kerja hanya berjarak puluhan meter dari kontrakan. Di pool bus Mayasari Bakti, dia memulai aktifitas kerja. Bersama sopir bus APTB 07 rute Bekasi – Tanah Abang, Rahmat berjuang mendapat uang dari hasil bolak-balik menggunakan armada itu melayani penumpang dari pagi hingga malam.

“Sehari bisa sih dapat Rp100 ribu sampai Rp200 ribu. Pokoknya asal jalanan rada lancar, bisa dapat duit sekitar Rp200 ribu,” tutur Rahmat kepada beritatrans.com, Senin (24/2/2014).

Pendapatan itu didapatnya dari uang jalan Rp12.500 setiap rit dan komisi 6 persen dari total tiket terjual. Bila jumlah rit (perjalanan bolak-balik) dan penumpang lebih banyak maka lebih banyak pendapatannya.

Beritatrans.com mengkalkulasi kalau rata-rata dalam satu hari, Rahmat mendapat Rp150 ribu, maka dengan hari kerja efektif 20 hari sebulan, dia mengantongi uang Rp3.500.000 per bulan.

Lalu gajinya berapa sebulan kalau pendapatan sehari sebesar itu? “Ya cuma itu gaji saya,” cetusnya. “Tapi saya bersyukur masih bisa kerja, bisa dapat duit buat saya dan keluarga”.

Rahmat menjadi salah satu sosok dari begitu banyak pekerja transportasi, yang berstatus tak jelas di perusahaan, akibatnya tidak memiliki gaji tetap. Entahlah bagaimana masa depan diri dan keluarga, bila jangankan jaminan kesehatan dan pendidikan buat keluarga, status jelas sebagai pegawai pun tak dimiliki. Hak-hak normatif menjadi begitu fiktif. (aw)