Angkasa Pura 2

Seperti Air France, Pencarian Malaysia Airlines Butuh Waktu Lama & Biaya Amat Mahal

KokpitMinggu, 9 Maret 2014
Angkatan Alut mengevakuasi bagian ekor pesawat A330 Air France yang terjatuh di Samudera Atlantik saat erbang dari Rio de Janeiro ke Paris, 1 Juni 2009

JAKARTA (beritatrans.com) – Ketika pesawat A330 Air France menghilang dari radar dan diketahui jatuh di Samudera Atlantik, tahun 2009, operasi SAR (pencarian dan penyelamatan) segera digelar.

Dalam beberapa minggu, reruntuhan sebagian bodi pesawat yang celaka saat terbang dari Rio de Janeiro, Brasil ke Paris, Perancis, bisa ditemukan. Namun investigator (penyelidik kecelakaan) membutuhkan dua tahun untuk mendapatkan reruntuhan utama dan kotak hitam pesawat dengan nomor penerbangan 447 itu.

Operasi SAR juga digelar dalam kasus hilangnya pesawat Boeing 777 200ER. Begitu banyak negara melibatkan diri dalam operasi tersebut, termasuk AS, Vietnam, China dan Singapura. Hanya saja, sejumlah ahli mengingatkan operasi itu membutuhkan biaya teramat besar dan kompleks.

Jika pesawat jatuh ke perairan sangat dalam, seperti yang dialami Air France, maka pencarian akan lebih sulit. “Semakin dalam maka semakin berat,” cetus Jim Hall, president perusahaan konsultan, Hall & Associates, dan mantan Kepala National Transportation Safety Board (badan keselamatan transportasi AS).

Petugas SAR, dia mengemukakan harus memahami betul tantangan dasarnya seperti lokasi jatuhnya pesawat dan beberapa hal kompleks seperti navigasi untuk menyusuri kawasan samudera.

“Sangat mahal (biayanya) dan bekerja dengan pekerjaan yang sangat teknis,” cetusnya seperti dilansir USA Today, Minggu (9/3/2014).

Pernyataan Hall tampaknya relevan dengan fakta bahwa pihak berwenang Malaysia sudah dan terus menyusuri perairan yang diduga lokasi jatuhnya pesawat. Namun setelah 24 jam berlalu setelah kejadian musibah itu, belum ada tanda-tanda reruntuhan pesawat ditemukan. Apalagi tidak ada sinyal darurat sebelum pesawat hilang dari radar.

Hall mengingatkan kita tidak dapat memastikan reruntuhan berada di satu lokasi. Ada kemungkinan reruntuhan tersebar.

Pernyataan Hall diperkuat oleh prediksi John Cox, mantan pilot yang kini bekerja di sebuah perushaan konsultan keselamatan, Safety Operating Systems.

Cox mengemukakan biaya dari operasi pencarian hingga tuntasnya membuka seluruh persoalan dalam kaitan musibah itu membutuhkan jutaan bahkan miliaran dolar AS. Biaya terbesar untuk membayar asuransi dan pengerahan berbagai peralatan dengan teknologi tinggi, termasuk sonar dalam air dan teknis lainnya.

Dalam kasus kecelakaan pesawat, dia mengingatkan invetigator harus melihat berbagai kemungkinan penyebab, termasuk faktor manusia, teknik, serta operasi dan sistemik, yang harus dievaluasi sebagai rangkaian penyebab kecelakaan.

Steve Mark, seorang pengacara penerbangan, yang pernah menangani kasus yang sama dengan problem musibah Malaysia Airlines, merekomendasikan perlunya melihat faktor kegagalan katastropik (catastrophic failure) atau semacam kegagalan fisik selama Boeing 777 – 200ER Malaysia Airlines terbang.

Kareanya, Marks mengingatkan agar pihak Malaysia Airlines membuka segala persoalan untuk memudahkan pengungkapan penyebab peristiwa tersebut. “Pesawat Airbus 330 Air France mengalami persoalan sinyal penerbangan,” jelasnya.(aw)

loading...