Angkasa Pura 2

Mengapa Malaysia Tidak Sejak Awal Informasikan Pesawat Dibajak?

KokpitMinggu, 16 Maret 2014
TarckingPlane15

JAKARTA (beritatrans.com) – Hilangnya pesawat Boeing 777 seri 200 Malaysia Airlines tak hanya menimbulkan kepanikan panjang keluarga penumpang dan awak pesawat, tetapi juga mengundang begitu banyak fakta bikin pusing kepala.

Fakta dimaksud adalah pernyataan-pernyataan dari pemerintah Malaysia, otoritas bandara dan pihak maskapai Malaysia Airlines. Selain fakta itu saling bertabrakan, juga infromasi kepada publik tergolong tidak clear, sehingga bikin jidat berkerut.

Pada Sabtu (15/3/2014), Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak mengumumkan informasi satelit bahwa pesawat dengan nomor penerbangan MH370 itu masih terdeteksi radar pada Sabtu (8/3/2014) pagi, hingga jam 08.11.

Setelah terdeteksi radar, transporder pesawat dimatikan, sehingga tak terdeteksi lagi oleh radar Aircraft Communications Addressing and Reporting System (ACARS). Saat transporder dimatikan, pesawat berada di antara perbatasan Malaysia dengan Vietnam.

Sebelumnya Najib mengemukakan pesawat menjelajahi rute tidak semestinya atau melenceng dari rute yakni dari Bandara Kuala Lumpur menuju Beijing, China. Pesawat dikendalikan oleh seseorang atau dua orang yang memiliki kapasitas kemampuan untuk menerbangkan pesawat jet. Karenanya, Malaysia akhirnya mengambil kesimpulan bahwa pesawat, yang mengangkut 239 orang, itu dibajak.

Pernyataan terakhir dari otoritas Malaysia ini berseberangan dengan pernyataan yang dikeluarkan setelah beberpa jam pesawat dinyatakan lost contact dengan menara air tarffic control (ATC) Bandara Kuala Lumpur.

Sejak Sabtu (8/3/2014) hingga Sabtu lagi yakni 14 Maret 2014, otoritas Malaysia masih mempertahankan informasi soal lost contact tersebut.

Jelas dan tegas dinyatakan bahwa pesawat tersebut hilang kontak dengan menara kontrol lalu lintas pesawat di Bandara Subang,Kuala Lumpur, Malaysia, Pk. 02.48.

Pesawat itu lepas landas dari Bandara Subang, pada Sabtu pagi, Pk. 12.41. Dengan mengangkut 227 penumpang, termasuk dua bayi, dan 12 awak, pesawat itu semestinya tiba di Bandara Beijing, China, di hari yang sama pada pukul 06.30.

Kalau dipersandingkan antara lepas kontak dengan ATC pada jam 02. 48 atau sekitar 2 jam setelah terbang, dengan fakta baru bahwa pesawat masih terdeteksi satelit hingga Pk. 08.11 atau sekitar 5 jam setelah lost contact dengan ATC, mengapa pula pemerintah Malaysia tidak segera memobilisasi pesawat tempurnya untuk mengejar pesawat tersebut.

Dalam konteks pengajaran pesawat, Malaysia juga dapat meminta bantuan AS, China, Vietnam, Singapura, Filipina dan Indonesia, untuk juga mengerahkan pesawat tempur.

Yang justru terjadi adalah operasi SAR yang secara massif digelar Malaysia dengan dibantu negara-negara lain. Operasi SAR dengan melibatkan kapal perang menyusuri sekitar laut China Selatan.

Karena fakta yang dianggap cukup aneh itu, pemerintah China dan Vietnam meminta data sebenarnya dari pemerintah Malaysia berkaitan dengan pesawat yang hilang tersebut.

Kalau dari hari pertama atau beberapa jam setelah pesawat dinyatakan menghilang, informasi yang sebenarnya disampaikan kepada negara-negara lain, tentu pencarian menjadi lebih fokus. Tidak perlu pula buang waktu dan uang begitu besar untuk pengerahan armada laut.

Dalam tempo lima jam tadi, pemerintah Malaysia memiliki banyak waktu untuk bernegosiasi dengan pembajak. Atau apakah pemerintah Malaysia memang gagal bersepakat, sehingga pembajak mematikan transporder pesawat pada Sabtu (8/3/2014), pukul 08.11?

Kegagalan untuk bernegosiasi itu yang menyebabkan Malaysia meminta bantuan negara lain untuk mencari pesawat Malaysia Airlines di sekitar Laut China Selatan.

Dengan hanya memiliki bahan bakar yang ada di pesawat, tentu tidak mungkin pesawat itu lebih lama lagi mengudara, sehingga dikhawatirkan jatuh.

Ada pertanyaan lain yang tak kalah menarik yakni mengapa pula Amerika Serikat seperti tak menjalankan aksi signifikan dalam proses negosiasi tersebut. Mustahil negara adidaya itu tidak tahu. Dengan kemampuan IT dan satelitnya, AS dipastikan dapat melacak pergerakan pesawat itu saat dibajak dan proses negosiasinya.

Contoh paling anyar adalah ketika otoritas Malaysia dan maskapai Malaysia Airlines masih menyembunyikan nama-nama penumpang di manifest pesawat, ternyata AS lebih dulu mengumumkan bahwa ada penumpang di dalam pesawat itu yang menggunakan paspor curian. (agus wahyudin/email: h.aguswahyudin@gmail.com).

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari