Angkasa Pura 2

Malaysia Airlines Tutup Sejumlah Rute, Jadi Indikasi Ada Masalah Internal

Another NewsSelasa, 25 Maret 2014
TarckingPlane15

Malaysia Airlines System (MAS) merupakan maskapai penerbangan yang baik menurut penilaian beberapa lembaga pemeringkat penerbangan. Bersama Singapore Airlines (SQ) hanya dua maskapai penerbangan tersebut mendapat rating Bintang 5 di antara maskapai penerbangan di Asia Tenggara menurut penilaian Skytrack.

Skytrack merupakan lembaga yang kredibel di kalangan dunia penerbangan. Pemberian tambahan bintang oleh Skytrack sangat diupayakan oleh maskapai penerbangan dunia.

Dengan MAS dan SQ mendapatkan Bintang 5 sedangkan Garuda Indonesia (GA) dan Thai Airways (THAI) masih mendapatkan Bintang 4, wajar kiranya GA sedang berusaha keras dengan perbaikan di semua lininya untuk mendapatkan Bintang 5 tersebut.

Sementara itu menurut penilaian Airlinesfinesthebest yang salah satu kriteria pengukurannya juga mendasarkan diri kepada Skytrack, MAS menduduki peringkat ke-5 terbaik secara overall dari semua maskapai penerbangan yang tergabung dalam aliansi maskapai penerbangan dunia.

Terdapat tiga aliansi penerbangan dunia, yakni: Sky Team, Star Alliance dan One World. Maskapai SQ di peringkat ke-3 sementara GA di peringkat ke-53 dan Thai Airways di peringkat ke-27.

Sedangkan dari sisi safety, Airlines Rating Com menilai MAS mendapat nilai 6 dari skala 7 (6/7) sedangkan SQ 7/7, Thai 6/7 dan GA 5/7. Rating yang diberikan kepada MAS ini menunjukkan bahwa MAS juga tidak buruk di dalam masalah safety, bahkan dinilai lebih baik dibandingkan GA walau belum mencapai yang didapat SQ.

Dari sisi armada (fleet), MAS termasuk maskapai penerbangan yang baik. Rata-rata usia armadanya bahkan paling muda dibandingkan rata-rata usia armada SQ, GA maupun THAI (data Airliesfinesthebest). Jumlah pesawat terbang dalam armadanya lebih banyak dibanding THAI walaupun kalah dari GA dan SQ (Data Website Maskapai ybs).

Dari sisi jumlah pesawat terbang dalam armadanya GA memiliki pesawat terbang terbanyak di antara maskapai penerbangan tersebut dengan 140 pesawat terbang.

Masih banyak cara penilaian masakapai penerbangan. Namun dari beberapa penilaian di atas dapat dilihat bahwa sesungguhnya MAS bukan maskapai penerbangan yang buruk, bahkan dalam beberapa hal mengungguli maskapai penerbangan lainnya.

Hanya saja dari data yang ada, terdapat beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa MAS sedang di dalam masalah perusahaan. Indikasi ini terlihat dari adanya kerugian perusahaan beberapa tahun terakhir ini serta penutupan banyak sekali rute penerbangan internasional jarak jauh, seperti : New York, Los Angeles, Vancouver, Viena, Manchester dan sebagainya (Data Wikipedia).

Penutupan rute penerbangan seringkali dilakukan maskapai penerbangan untuk rasionalisasi rute guna mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Tetapi dalam hal MAS, penutupan rute penerbangan tanpa ada rute baru dan penambahan frekuensi pada rute yang ada dan dibarengi pula dengan adanya kerugian perusahaan, menjadi indikasi bahwa MAS memang sedang dalam kesulitan.

Walaupun tidak ada hubungan antara performansi perusahaan MAS dalam beberapa tahun terakhir ini dengan adanya aksiden MH 370, ditambah beberapa aksiden lain yang diberitakan seperti kerusakan generator pesawat MAS di Bandara Hongkong dan pesawat terbang MAS menabrak sekumpulan bebek di Nepal tanpa dilaporkan ke otoritas penerbangan setempat,

Namun patut kiranya kita semua mengkhawatirkan bahwa memburuknya performansi keuangan perusahaan berdampak kepada kekecewaan pegawainya termasuk awak pesawat terbang dan juga mungkin pada pemeliharaan dan operasional pesawat terbang.

Dengan melihat performansi dari Maskapai Penerbangan di Asia Tenggara tersebut yang menarik untuk diamati adalah bahwa di antara maskapai penerbangan Asia Tenggara: SQ, MAS, THAI dan GA masing-masing memiliki keunggulan.

Dari sisi armada keseluruhan dari berbagai tipe pesawat terbang yang dimiliki, GA merupakan maskapai penerbanga yang terbesar. Hanya saja, apabila hanya dibatasi dari sisi armada pesawat berbadan lebar (wide body) GA yang terkecil.

Apabila dikaitkan bahwa pesawat berbadan lebar lebih diarahkan untuk penerbangan internasional jarak jauh (kecuali Vietnam Airlines yang banyak menggunakan pesawat berbadan lebar untuk rute domestiknya) dan dihubungkan dengan luasnya wilayah nasional masing-masing negara dari maskapai penerbangan tersebut maka menjadi sangat wajar bahwa SQ hanya memiliki armada pesawat terbang berbadan lebar.

Wajar pula GA terbanyak memiliki pesawat terbang berbadan sempit. Atas hal ini akan dituliskan dalam tulisan berikutnya. (edia haryoto/pengamat penerbangan)