Angkasa Pura 2

Pabrik Gas Dibangun di Atas Kapal Raksasa

DermagaSenin, 7 April 2014
shell-prelude-flng-facility

JAKARTA (beritatrans.com) – Dalam upaya menghemat pengeluaran, perusahaan gas alam berencana membangun pabrik pengolah gas di atas kapal berukuran raksasa yang lebih besar dari kapal induk militer. Langkah ini dipandang lebih murah ketimbang membangun kompleks industri di darat yang mahal.

Munculnya kapal gas alam cair terapung atau FLNG ini, The Wall Street Journal memberitakan menunjukkan bagaimana kompetisi global untuk memasok gas alam yang lebih murah ke negara-negara Asia turut memajukan teknologi dalam sektor minyak dan gas.

Eksplorasi minyak dan gas kini menyelam lebih jauh di lautan terpencil. Ukuran cadangan gas yang ditemukan juga berkurang. Dengan pertimbangan ini, membangun satu kapal FLNG yang bisa berpindah-pindah lokasi dinilai lebih ekonomis.

Proyek pembuatan FLNG juga hanya membutuhkan “sekitar dua pertiga waktu yang dibutuhkan untuk membangun pabrik di darat,” kata Ciaran McIntyre, kepala proyek kepatuhan di Lloyd’s Register di Korea.

Proyek pabrik di darat juga rawan tertunda karena alasan birokrasi, mahalnya harga tanah, upah buruh yang tinggi, dan sejumlah regulasi lingkungan. Menurut McIntyre, efisiensi sektor pembangunan kapal akan turut mengembangkan industri gas dan menyokong pasokan gas Asia di masa depan.

Konsep pabrik gas apung sejauh ini belum teruji, meski fasilitas hidrokarbon berbasis kapal telah ada sejak puluhan tahun. Namun pabrik apung ini akan jadi fasilitas pertama yang mencairkan gas dalam temperatur -160 derajat Celsius di atas laut.

Kapal FLNG pertama di dunia tampaknya akan dimiliki oleh proyek gas gabungan perusahaan Texas, Excelerate Energy LP, dan perusahaan Toronto, Pacific Rubiales Energy Corp.

Armada FLNG di pesisir Kolombia tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2015. Pabrik gas apung itu akan berkapasitas produksi 500.000 ton per tahun dan dibangun di Cina oleh Wison Group yang berbasis di Shanghai.

proyek yang paling banyak dibicarakan dalam konferensi tahunan Gastech di Seoul minggu lalu adalah Prelude FLNG Project. Ini adalah proyek besar-besaran yang dipimpin raksasa minyak Royal Dutch Shell PLC dengan rekan termasuk Inpex Corp (Jepang), Korea Gas Corp (BUMN Korea Selatan), dan CPC Corp asal Taiwan.

Prelude diprediksi akan menjadi bangunan mengapung terbesar yang pernah dibangun manusia. Prelude akan memiliki panjang sekitar 488 meter – atau lebih dari empat kali lapangan sepakbola – dan lebar 74 meter. Pabrik ini berkapasitas produksi 3,6 juta ton LNG per tahun, cukup untuk memenuhi permintaan gas tahunan Hong Kong.

Prelude yang dibangun oleh Samsung Heavy Industries ini diperkirakan selesai dibangun pada tengah tahun pertama 2016. Pengamat industri gas memperkirakan proyek ini akan berbiaya sekitar $11 miliar- $12 miliar.

Proyek lainnya yang tengah digarap antara lain Browse kepunyaan Woodsie Petroleum Ltd di perairan Australia, proyek Abadi milik Shell di lepas pantai Indonesia, dan dua proyek dari perusahaan negara Malaysia, Petroliam Nasional Bhd. (sofie).

loading...