Angkasa Pura 2

Bandara Ahmad Yani Mestinya Dapat Rekor MURI

BandaraMinggu, 13 April 2014
Semarang Barat-20140413-00516_edit

SEMARANG (beritatrans.com) – Datang untuk terbang dari Bandara Ahmad Yani, Semarang, dapat dipastikan berjumpa dengan ‘tradisi’ calon penumpang pesawat uyel-uyelan di terminal keberangkatan.

Bisa disebut ‘tradisi’ karena situasi dan kondisi itu memang sudah berlangsung amat lama. Bertahun-tahun. Tanpa pernah ada aksi konkret untuk menghapus atau setidaknya mengurangi bertumpuknya calon penumpang burung besi.

Paling nyar, beritatrans.com mesti menggunakan bandara tersebut untuk terbang ke Bandara Halim Perdanakusuma, Minggu (13/4/2014) sore. Ada tiga jadwal pesawat yang berhimpitan sore itu yakni Garuda Indonesia, Lion Air dan Citilink.

Karena datang bersamaan, ratusan calon penumpang terlihat uyel-uyelan di terminal keberangkatan. Di antara mereka, banyak yang memanfaatkan kursi di kafe atau lantai terminal untuk duduk.

Padahal bandara ini merupakan infrastruktur transportasi udara di ibukota Jawa Tengah. Menjadi pintu gerbang sekaligus salah satu penggerak perekonomian daerah.

Setelah terminal Bandara Husein Sastranegara, Bandung, diperbaiki dan diperluas bulan depan, maka Bandara Ahmad Yani menjadi satu-satunya bandara ibukota provinsi di Pulau Jawa, yang terminalnya melayani penumpang dengan ruang yang sempit.

Dengan posisi tunggal itu, maka rasanya pantas bagi Bandara Ahmad Yani untuk menyabet Rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai bandara di ibukota provinsi di Pulau Jawa, yang mempertahankan ‘tradisi’ penumpang uyel-uyelan.

Bisa juga ditambah rekor bandara yang masih memberikan pelayanan kepada calon penumpang pesawat untuk menikmati tradisi lesehan.

Rakyat Indonesia mungkin paham bahwa manajemen PT Angkasa Pura I sebagai pengelola bandara dan TNi AD sebagai pemilik lahan bandara, pasti risau dengan kondisi itu. Rencana pengembangan bandara sudah dipersiapkan dengan matang, termasuk urusan pendanaannya.

Tetapi rakyat juga paham kalau akhirnya rencana itu mesti terganjal oleh permintaan dari Kementerian Keuangan agar PT Angkasa Pura I menaikkan uang sewa lahan bandara tersebut.

Disebut terganjal karena PT Angkasa Pura I konon berkeberatan dengan besaran uang sewa seperti digariskan Kementerian Keuangan. Alasannya, bila uang sewa dinaikkan maka biaya investasi menjadi lebih mahal.

Rasanya wajar saja bila rakyat juga paham bahwa perbedaan kalkulasi antara Kementerian Keuangan dengan PT Angkasa Pura I, yang berpotensi menyebabkan pengembangan bandara menjadi molor dari jadwal tersebut bisa juga tercatat dalam Rekor MURI. (aw).

← Artikel Sebelumnya