Angkasa Pura 2

Ketua Ikatan Alumni: Jangan Kandaskan Semangat 1.500 Taruna STIP!

SDMSenin, 28 April 2014
Gambir-20140403-00496

JAKARTA (beritatrans.com) – Ketua Ikatan Alumni STIP Capt. Bobby R Mamahit menyatakan prihatin terhadap tindak kekerasan taruna sekolah pelayaran tersebut. Hanya saja, isu terhadap persoalan tersebut jangan sampai mengkandaskan semangat 1.500 taruna dan pendidik di sana.

Kepada beritatrans.com, Senin (28/4/2014) pagi, dia mengemukakan kekerasan yang terjadi di luar sekolah tersebut, apalagi sampai menyebabkan korban jiwa, merupakan aksi yang patut amat disesali.

Namun demikian, Bobby mengimbau agar kita jernih memahami persoalannya. “Sebaiknya kita melihat dan menganalisis secara komperhensif. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan secara utuh dan tepat,” tuturnya.

Lulusan tahun 1979 sekolah tersebut menuturkan saat ini terdapat 1.500 taruna dari seluruh daerah di Indonesia. Mereka datang dari latabelakang pengalaman, kultur, keyakinan dan sosial berbeda. Selama belasan tahun sebelum masuk STIP, mereka memiliki karakter dan kepribadian permanen.

Kalangan pendidik di STIP berkewajiban memperkuat mereka menjadi sosok yang tangguh, kompeten sekaligus cerdas dalam mengelola mental dan emosional. Karena itu, digelar berbagai pendidikan, yang antara lain juga mengedepankan pembangunan karakter dan mental rohani.

Pada sisi lain, pengelola STIP meesti menghadapi benturan dalam merekrut tenaga-tenaga pendidik. Sangat sedikit orang yang mau menjadi dosen atau instruktur. Tenaga yang memiliki kompetensi itu lebih memilih berkarir sebagai PNS atau bekerja di kapal.

Dengan segala upaya luar biasa, Bobby menuturkan STIP mampu melahirkan rata-rata 1.000 perwira setiap tahun. Mereka menjadi bagian dari komponen bangsa, yang sebagian di antaranya menjadi penghasil devisa buat negara karena bekerja di kapal asing.

Bahwa dalam proses tadi, dia menyatakan kadang terjadi ‘error’ antara lain berbentuk kekerasan taruna, maka semestinya didudukkan persoalannya kepada aspek logika dan kedalaman obyektifitas.

“Bayangkan saja, 1.500 anak mesti dididik dan diawasi. Pengawasan itu sangat ketat di dalam kampus atau asrama. Kalau akhirnya terjadi kekerasan di luar kampus, haruskah pengelola dan pendidik di STIP menanggung beban sebagai pihak yang amat bersalah?” cetusnya.

Hujatan atau kecaman yang tidak proporsional, Bobby mengkhawatirkan berpotensi melemahkan semangat pengelola dan pendidik di STIP, juga taruna di sana.

“Sebagai orang yang pernah dididik di sana, saya mengerti betul bahwa sebagai taruna mesti memiliki kebanggaan dan semangat besar untuk kelak menjadi orang hebat. Kalau kebanggaan itu padam, maka amat berat untuk mengobarkannya lagi,” tuturnya.

Karenanya, dia mengemukakan masyarakat memiliki kewajiban untuk ikut mendukung STIP menjadi sentra produksi tenaga-tenaga andal dan profesional yang akan menjadi kebanggaan keluarga, masyarakat dan bangsa. (aw).

  • Sontoloyo Tenan

    1500 Taruna itu APAKAH Pihak Pemerintah akan BERTANGGUNG JAWAB untuk LAPANGAN KERJANYA ? …. tapi yang terlihat, Wajah2 Pejabat2 yang terkait … terlihat seperti PENJAHAT ….

    STIP dulu di kenal dengan AIP ~ oleh Soekarno di sebut sebagai Taruna Ibu Kota … sekarang akan menjadi Taruna calon Pengangguran …

    TIDAK ADA LULUSAN STIP yang bisa dan Mampu bekerja di Perusahaan2 Pelayaran INTERNASIONAL … mereka kalah dengan India dan Yunani …

    DAN LULUSAN STIP lebih senang kerja di Tug boat … hobbynya ‘kencing’ ..

    • Mustarie

      Mungkin anda salah se org yg iri tidak bs masuk STIP / AIP dulunya. Mmg kompetisi cukup ketat dgn dgn negara2 lain, tp bukan berarti tidak ada yg mampu bekerja di perusahaan asing.
      Calon pengangguran? Sejak 1995 sy tamat dari sana, Alhamdulillah tdk merasakan sulit mendapatkan kerja terkadang kami menolak lowongan kerja kapal karna standard harga kami yg tinggi. Bnyk CAAIP yg punya posisi bagus di dunia pelayaran dlm dan luar negeri, begitu jg di perusahaan minyak. Bnyk dari kami yg tak pernah tau kerja tugboat atau kencing istilah anda. Jd berkomentar di media jgn asal bung. Tdk semudah itu membubarkan sekolah yg merupakan asal muasal perwira kapal dari Indonesia.

      • Sontoloyo Tenan

        Terima kasih untuk komentarnya …
        Tapi yaaa tolong yang jujur dong kalau menjawab … Istilah2 yang ada dan tertulis informasinya kan yaa dari rekan2 anda sendiri ..

        dan kasihannya lagi …. lowongan pelaut saat ini semua statusnya kontrak … jadi bagaimana bisa merencanakan masa depan …

  • jhon tanker

    Apapun alasanya pembunuhan itu sudah melangar undang2..mau jadi perwira kok goblok… di dalam kampus sendiri pun banyak kekerasan,memang kampus anda membeli hak setiap mahasiawa?
    Intinya sama sama cari sesuap nasi ngak usah seperti itu….

  • ismail malik

    PERJALANAN MENUJU
    KEBERHASILAN

    Salam untuk teman2 taruna yang masih berjuang, saya ismail
    salah satu taruna angkatan 2013/2014 ingin share ke teman2 tentang prosedur
    penerimaan taruna di STIP yang semakin melunjak setiap tahunnya. Kemarin saya
    juga seorang calon taruna sama seperti teman2 sekarang tapi dalam hal ini saya
    mengalami kendala tentang beberapa persyaratan untuk masuk/lulus menjadi
    seorang taruna di STIP ini, tanpa sengaja saya berkunjung ke rumah saudara dan
    akhirnya saya ketemu dengan teman om saya kebetulan teman om saya itu salah
    satu Panitia penerimaan taruna/Dosen di STIP akhirnya saya menjelaskan tentang
    kendala saya itu dan akhirnya beliau bersedia membantu saya, dan alhamdulillah
    pada akhirnya sayapun lulus menjadi seorang TARUNA STIP Jakarta.

    Jadi untuk teman2 yang mengalami kendala dan ingin lulus
    menjadi taruna di STIP silahkan langsung hubungi beliau M. Akbar Amin,
    M.MTr.,M.Mar : 081998580383 insya allah beliau
    siap membantu,,,..