Angkasa Pura 2

Tahun Ini, Subsidi Angkutan Laut Perintis Rp437 Miliar

DermagaKamis, 8 Mei 2014
2014-05-07 23.41.06

MANADO (beritatrans.com) – Pemerintah akan terus meningkatkan layanan pelayaran  perintis, baik  dalam bentuk peningkatan jumlah trayek maupun pengadaan kapal laut  perintis, karena masih banyak daerah yang membutuhkan layanan transportasi laut.
 
“Saat ini permintaan pelayaran perintis dari berbagai kepala pemerintah daerah masih sangat tinggi, karena banyaknya  daerah yang belum mendapatkan layanan angkutan laut secara komersial,” ungkap  Dirjen Perhubungan Laut Capt. Bobby R. Mamahit, seusai  membuka Rapat Kordinasi Pelayaran Perintis  tahun anggaran 2014, di Manado, Rabu (7/5/2014).
 
Selain itu, berdasarkan hasil kajian tahun 2009  tercatat untuk memenuhi daerah-daerah  yang  membutuhkan layanan pelayaran  perintis dibutuhkan 96 trayek.  Sampai tahun 2014 sudah ditetapkan sebanyak 84 trayek, sehingga masih membutuhkan 12 trayek lagi.

Namun demikian untuk  menetapkan trayek perintis,  lanjut Capt. Bobby R. Mamahit, pemerintah akan melakukan penilaian permintaan para kepala  pemerintah daerah dengan kriteria penetapan daerah yang disinggahi pelayaran perintis itu.

“Jadi penetapan daerah yang disinggahi kapal perintis atau penetapan trayek pelayaran  perintis berdasarkan kebutuhan bukan keinginan semata,” ungkap Capt. Bobby R. Mamahit.

Yang dimaksud berdasarkan kebutuhan sehingga suatu daerah disinggahi layanan  angkutan laut  perintis diantaranya adalah, suatu daerah merupakan daerah yang termasuk kategori terpencil atau terdepan (terluar), belum disinggahi layanan angkutan laut komersial dan tersedianya dermaga yang memadai untuk sandar kapal perintis.

“Jika itu terpenuhi, maka layanan pelayaran perintis bisa dilakukan di suatu daerah,” ungkap mantan Administrator Pelabuhan Sorong itu.

Jangan sampai hanya karena ingin memenuhi keinginan suatu pihak, tambahnya,  penetapan suatu daerah mendapatkan layanan pelayaran   perintis  tanpa memenuhi kriteria yang ada.

Misalnya, suatu daerah yang akan dilayani tidak memiliki pelabuhan yang dermaganya memadai untuk sandar kapal,  maka hal itu membuat kegiatan operasional  pelayaran perintis menjadi tidak optimal.

“Upaya mengoptimalkan layanan kapal perintis melalui  waktu tempuh dalam satu trayek menjadi tidak terlaksana, karena adanya hambatan pengoperasian kapal  yang akan sandar, atau waktu sandar menjadi lebih lama, ”  kata Capt. Bobby R. Mamahit.

Saat ini rata-rata dalam satu trayek angkutan laut perintis membutuhkan waktu 14 hari, bahkan ada yang lebih lama lagi, padahal waktu ideal yang ditetapkan 7 hari.

“Untuk memenuhi kebutuhan ideal  waktu tempuh itu, maka upaya yang dilakukan dengan menambah kapal perintis, dan  dukungan dari optimalisasi layanan,” tegasnya

Terkait dengan peningkatan trayek pelayaran  perintis,  tahun 2014 ini  ditetapkan sebanyak 84  trayek dengan 34 pelabuhan pangkal dan menyinggahi  526 pelabuhan, dengan alokasi total anggaran sebesar Rp437 miliar.

Meningkat dari tahun sebelumnya yang jumlah trayek sebanyak sebanyak 80 trayek dengan  32 pelabuhan pangkal dan menyinggahi  519 pelabuhan, dengan alokasi total anggaran Rp 407, 8 miliar. (leny/aw).