Angkasa Pura 2

Supir DAMRI Harus Memiliki Kepribadian yang Baik

KoridorSabtu, 17 Mei 2014
IMG_7483

BOGOR (beritatrans.com) – Selama dua tahun Indrayanto, pria kelahiran 7 Mei 1979 asal Purwakerto, Banyumas ini menikmati pekerjaannya menjadi supir DAMRI (Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia) sejak awal Januari 2013 lalu.

Berbagai kendala sering ia alami seperti keluhan para penumpang ketika berangkat meminta ia untuk cepat mengemudikan karena waktu yang mendesak untuk naik pesawat. Padahal, saat itu kondisi lalu lintas masih dalam situasi macet.

Tak hanya itu, keteledoran pun sering terjadi ketika penempung telah teledor dalam mengambil barang karena terburu-buru. Meskipun, sudah diberikan pengamanan berupa penyuluhan disetiap tempat duduk, masih saja ada yang seperti itu. Beruntung, hal tersebut masih bisa diatasi.

Selama perjalananannya menjadi supir DAMRI ada banyak hal yang ia rasakan yaitu, ketika melakukan perjalanan secara borongan bersama penumpang untuk pergi ke Bogor atau Bandung. “Jadi, saya dan teman-teman bisa menghilangkan kejenuhan dan kemacetan di Jakarta dengan cara refreshing di sana,” tuturnya ketika dikonfirmasi beritatrans, Kamis (15/5/2014).

Adapun, trayek perjalanan yang biasa ia lalui yakni, rute Kemayoran hingga Bandara Soekarno Hatta dengan waktu tempuh selama 45 menit dan biaya perjalanan dikenakan satu penumpang seharga Rp30 ribu.

Selain itu, ia juga mengaku, pasti mengutamakan keselamatan penumpang. “Mana mungkin kita tidak memikirkan keselamatan penumpang, karena setiap supir yang bertugas membawa aset perusahaan yang tidak murah, satu bus bisa berharga lebih dari satu milyar, kalau supir tidak sejahtera kemudian bekerja tidak tenang dan mengalami kecelakaan, pengusaha sendiri yang akan rugi,” tegasnya.

Bahkan, dalam hal ini menurut Indrayanto, supir tidak hanya memiliki kemampuan teknis mengendarai dan pengetahuan berlalu-lintas tetapi juga kepribadian yang baik. Lanjutnya, sikap yang harus dijaga adalah tidak mudah emosi dan ugal-ugalan di jalan hanya karena masalah-masalah kecil saja sehingga mengurangi risiko kecelakaan di jalan. “Jadi yang penting adalah bagaimana sikap dan pelayanan kita terhadap penumpang,” terang ayah dari dua anak ini.

Ia mengungkapkan, saat ini pengemudi merupakan ujung tombak dari perusahaan angkutan umum. Sehingga, apabila perusahaan angkutan umum ingin usahanya tumbuh dan berkembang dengan baik, maka memilih pengemudi yang baik menjadi kunci penting.

Dijelaskannya, pengemudi yang ideal yakni, sehat jasmani dan rohaninya, memiliki kecakapan dalam mengemudikan kendaraannya, mengemudikan kendaraannya dengan tenang, memahami rambu-rambu lalu lintas, dan tentu saja berkepribadian baik sehingga bisa melayani dan menghargai penumpangnya.

Masalahnya walaupun sama-sama bertanggung jawab membawa penumpang yang cukup banyak, supir saat ini bukanlah profesi seperti pilot pesawat yang benar-benar dipersiapkan dan dididik dengan pola kurikulum yang jelas sebelum mereka menjalankan profesinya. Faktanya, yang terjadi sekarang ini relatif mudah bagi seseorang untuk menjalani profesi sebagai supir bus angkutan umum. Cukup dapat nyetir kendaraan dan mempunyai sim B1/B2 umum. “Kualitas dari supir juga menentukan bagaimana pelayanannya bagi penumpang,” paparnya.

Sementara itu, pada 2014 ini ia mempunyai keinginan salah satunya menjadi pegawai tetap. “Saya, ingin tahun ini DAMRI bisa lebih maju lagi dan ia bisa diangkat menjadi pegawai tetap karena saat ini statusnya masih pegawai honorer,” harapnya. (leny)

  • Tri Supir Damri

    Sepertinya istilah “Supir” sdh waktunya diganti “Pengemudi” pak bos.