Angkasa Pura 2

Tsunami Tidak Pengaruhi Rencana Pembangunan Bandara di Kulonprogo

BandaraSenin, 16 Juni 2014
Airport_Presentation

KULONPROGO (beritatrans.com) — Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memastikan tsunami tidak mempengaruhi rencana pembangunan bandara internasional oleh PT Angkasa Pura di wilayah ini.

“Semua situasi bencana sudah diperhitungkan mulai dari api, banjir, angin hingga tsunami. Kalau masalah tsunami membuat orang tidak berkembang akan menjadi daerah yang tertinggal,” tegas Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kulonprogo, Astungkoro, di Kulonprogo, Minggu (15/6/2014).

Misalnya saja di Jepang, ujar Astungkoro seperti dilansir Antara, negera yang sering terjadi gempa, bandara hingga jalur kereta tetap dibangun. Hal ini karena menggunakan teknologi, begitu juga bandara yang akan dibangun di Kulon Progo, akan menggunakan teknologi canggih dan sudah diperhitungkan sebelumnya.

Menurut dia, seluruh wilayah Indonesia, kecuali Kalimantan, berpotensi terjadi tsunami. Selain itu, soal tsunami sudah ada di mitigasi bencana di DIY dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DIY.

“Berbicara tsunami, di seluruh kawasan pantai selatan di tempati oleh penduduk. Kenapa yang dipermasalahkan hanya bandara di Kulon Progo. Tsunami dapat diatasi dengan teknologi,” kata dia.

Selain itu, Astungkoro mengatakan, rencana induk yang dikirim ke Kementerian Perhubungan (Kemhub) sudah menyangkut seluruh potensi terburuk hingga cara mengatasinya. Karenanya, terbitlah izin penetapan lokasi dari Kemhub.

“Kami justru mempertanyakan kenapa persoalan ini dihembuskan oleh lembaga tertentu. Apa kepentingan mereka terhadap rencana pembangunan bandara di Kulon Progo,” kata dia.

Sebelumnya, peneliti tsunami Balai Pengkajian Dinamika Pantai-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPDP-BPPT) DIY, Widjo Kongko mengatakan, berdasarkan kajian, rencana lokasi bandara baru Yogyakarta di Pantai Glagah, Kecamatan Temon, Kulon Progo, berpotensi dilanda tsunami dengan ketinggian hingga sembilan meter.

Kajian itu memang belum spesifik di lokasi tapak bandara baru itu, tetapi dilakukan terkait rencana pembangunan infrastruktur transportasi (jalan, jembatan, pelabuhan, dan bandara) di pantai Yogyakarta yang membentang sepanjang 115 kilometer.

“Kajian kami, mulai dari sisi timur Sungai Bogowonto di perbatasan Kulon Progo dengan Kabupaten Purworejo hingga Pantai Parangtritis di Kabupaten Bantul termasuk daerah rentan gempa dan tsunami,” kata Widjo.(machda)