Angkasa Pura 2

Gubernur Jawa Barat: Kecelakaan di Tanjakan Emen Bukan Tragedi Mistik

KoridorKamis, 19 Juni 2014
tanjakan emen

JAKARTA (beritatrans.com) — Kecelakaan maut yang menimpa bus rombongan siswa SMA Al Huda Cengkareng, Jakarta Barat, di “Tanjakan Emen”, Kabupaten Subang, Jawa Barat, ternyata bukan yang kali pertama.

Percaya atau tidak, terdapat cerita misteri berbau mistik terkait Tanjakan Emen yang persisnya terbentang sebelum jalan menuju pintu objek wisata air panas Ciater tersebut.

Faktanya, Bus Aladin bernomor polisi B 7592 YB yang membawa 54 siswa SMA Al Huda Cengkareng itu kecelakaan di tanjakan Emen, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Selasa (17/6/2014) malam sekitar pukul 18.00 WIB. Kecelakaan tersebut, mengakibatkan 8 siswa meninggal di tempat, 17 orang luka berat, dan sisanya luka ringan.

Kecelakaan maut yang menewaskan delapan orang di Tanjakan Emen, Ciater, Subang, Jawa Barat diduga karena bus pariwisata yang mengangkut siswa SMA Al Huda, Cengkareng, mengalami rem blong.

“Kesimpulan sementara, diduga karena rem bus blong,” jelas Kapolres Subang AKBP, Chiko Ardiwiatto, Selasa (17/6/2014).

Menurut AKBP Chiko, kepolisian juga mendapati, posisi perseneling bus nahas tersebut dalam kondisi netral.

Menanggapi cerita mistik tersebut, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan membantah tragedi kecelakaan di Tanjakan Emen, Subang yang menewaskan 9 orang rombongan SMA Al-Huda, Cengkareng, Jakarta karena persoalan mistis.

Gubernur Heryawan mengatakan meski kerap menelan korban setiap tahun, kecelakaan yang terjadi di Tanjakan Emen bukan persoalan mitos. “Saya khawatir mitos ini dipercaya, padahal Insya Allah ini bukan mitos,” katanya di Bandung, Rabu (18/6/2014).

Menurutnya, musibah yang terjadi di lokasi rawan kecelakaan tersebut bisa disebabkan dua hal yakni faktor teknis dan human error. “Ini pasti urusan teknis. Bisa saja dari manusia, human error, jalannya mungkin kurang bagus,” katanya.

Gubernur sendiri meminta agar masyarakat tidak menghubung-hubungkan musibah ini dengan mitos-mitos yang selama ini beredar. Heryawan mengaku jika masyarakat mempercayai mitos tersebut dirinya khawatir.

Sebelumnya, Dadan Wahyudin, pengguna Kompasiana, pernah menuliskan asal usul ruas Jalan Raya Bandung-Subang tersebut lebih beken disebut “Tanjakan Emen.”

“Menurut cerita di kalangan warga, alkisah Emen dikenal supir pemberani. Emen mengemudikan oplet jurusan Bandung-Subang. Ia tewas kecelakaan di daerah itu saat mengangkut ikan asin dari Ciroyom Bandung menuju Subang, tahun 1964,” tulis Dadan di Kompasiana.com, 1 Agustus 2010 silam.

Kala itu, tutur Dadan dalam tulisannya berjudul “Melewati Legenda Tanjakan Emen, Ciater Subang”, kendaraan yang disopiri Emen terbalik dan terbakar.

Nahas bagi Emen, dia terbakar hidup-hidup hingga tewas. Konon, saat itu, Emen dikenal sebagao satu-satunya sopir yang berani mengemudikan kendaraan pada malam hari.

“Setelah peristiwa itu, warga sekitar meyakini arwah Emen bergentayangan dan mengganggu para pengemudi yang berani melintas di daerah tersebut, terutama pada malam hari. Kejadian rem blong, bus tergelincir dan kendaraan terperosok kerap terjadi di jalur ini,” tuturnya.

Tak sedikit pula, sambungnya, terjadi peristiwa aneh seperti kendaraan tiba-tiba mogok, sopir atau penumpang kendaraan bermotor kesurupan saat melintasi Tanjakan Emen.

Versi lain tentang asal usul “Tanjakan Emen” menyebutkan, nama tersebut mulai melekat saat ada seseorang bernama Emen menjadi korban tabrak lari di daerah itu.
Kemudian, mayat Emen bukannya ditolong malah disembunyikan di rimbun pepohonan sekitar tanjakan tersebut.

Tak diketahui kapan terjadi peristiwa tabrak lari tersebut. Namun, sejak saat itu, arwah Emen diyakini bergentayangan menuntut balas.(machda)

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari