Angkasa Pura 2

Dirjen Perhubungan Darat Optimalkan Kapal Perintis untuk Konektivitas Transportasi Darat

KoridorMonday, 23 June 2014

SURABAYA (beritatans.com) — Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat (Hubdat) Kementerian Perhubungan, Suroyo Alimoeso optimis nantinya layanan transportasi darat seperti transportasi perkotaan, antarkota dalam provinsi dan antarkota antar-provinsi (AKDP dan AKAP), semua saling terintegrasi dengan penyelenggaraan semua transportasi lain seperti laut, udara, kereta api.

“Jadi, dalam penanganan selanjutnya akan menjadi sesuatu yang utuh. Apa yang diinginkan masyarakat akan lebih cepat tercapai. Artinya perkembangan antara satu wilayah dengan wilayah lain akan seimbang, sejajar, dan mau tidak mau pertumbuhan ekonomi akan tercapai,” tegas Suroyopada lokakarya Sistem Logistik Nasional (Sislognas untuk insan Pers di Surabaya, Senin (23/6/2014).

Sekarang, pada bidang transportasi darat, pelayanan yang ada seperti transportasi jalan dan penyeberangan telah saling terintegrasi. Proyek Sabuk Nusantara kini telah selesai. Sabuk Selatan Nusantara yang menghubungkan Sabang (Aceh) hingga Merauke (Papua) selesai pada Desember 2013. Sementara, Sabuk Tengah Nusantara telah tersambung April 2014, dan Sabuk Utara Nusantara diha-rapkan tuntas pada 2015 mendatang.

Menurutnya, boleh dibilang, konsep Sabuk Nusantara sebagai perekat antara wilayah Indonesia dari timur ke barat atau ke utara tersebut, menjadi catatan baru bidang transportasi nasional.

“Untuk pertama kalinya konektivitas terjadi secara utuh di Tanah Air, yakni tersambungnya jalan raya dengan ferry penyeberangan. Sabuk Nusantara tersebut, menghubungkan 16 pulau dari Pulau We (Sabang), Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, hingga Papua,” paparnya.

Panjang lintasan jalan yang tersambung tersebut mencapai 5.330 kilometer (km) dengan 1.600 km jalur laut. Jalur tersebut melayani 115 kapal melalui 11 lintas penyeberangan. Lintas penyeberangan tersebut meliputi: Balohan-Uleu Lheu; Merak-Bakauheuni; Ketapang-Gili Manuk; Padang Bai-Lembar; Kayangan-Pototano; Sape-Labuan Bajo; Larantuka-Lewoleba; Kalabahi-Iwaki; Kisar-Tepa; Saumlaki-Tual; Dobo-Pomako-Merauke.

Dia menegaskan, prioritas penyelenggaraan angkutan penyebrangan memang diarahkan ke provinsi kepulauan seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat, Maluku Utara, Maluku, Riau Kepulauan, Bangka Belitung, dan Sulawesi Utara.

Sruroyo berpesan kepada penerusnanya nanti, jika semua layanan transportasi tersebut telah terintegrasi, hal tersebut akan membawa dampak positif terhadap para pelaku industri transportasi darat, terutama guna meningkatkan daya saing. Jadi, pada waktu ASEAN Economic Community dibuka, harapannya para pelaku industri transportasi nasional siap bersaing dengan pelaku industri sejenis lain di regional ASEAN.

“Perannya, transportasi darat sangat vital sebagai pengumpan atau feeder dalam sistem transportasi nasional. Sementara, transportasi laut dan udara berperan sebagai tulang punggung penyelenggaraan transportasi nasional,” tandas dia.(machda/leny)