Angkasa Pura 2

Pemprov DKI Kucurkan Rp2 Triliun untuk Bus Transjakarta

KoridorJumat, 4 Juli 2014
busway 4

JAKARTA (beritatrans.com) – Pemprov DKI Jakarta kucurkan dana bagi Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) sebesar Rp2 triliun untuk PT TransJakarta. Dana tersebut nantinya dimaksimalkan sesuai penambahan bus pada 2015.

“Kami sudah sampaikan ke Plt Gubernur, katanya mau kasih tambahan modal ke kita untuk beli bus, Rp2 triliun,” ungkap Dirut PT Transjakarta, Antonius Kosasih ketika dikonfirmasi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (3/7/2014).

Ia menjelaskan, sekarang ini yang jadi prioritas utama itu PT Transjakarta sebagai BUMD baru milik Pemprov DKI merupakan salah satu cara untuk menghadirkan bus baru dengan kualitas yang bagus. Bahkan, Antonius akan menerima kendaraan dari Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) yang sudah berpengalaman menghasilkan produk bus di negara-negara maju.

“Namun, kami harus kerja sama dengan ATMP, yang punya perwakilan, punya kantor, workshop, serta suku cadang disini, dan sudah dipakai di negara lain juga,” paparnya.

Pihaknya berencana, mencari ATPM yang memberikan masa pemakaian bus lebih lama hingga 10 tahun ke atas. Pengadaan tersebut, rencananya akan dimulai sejak 2015. Menurutnya, untuk dana Rp2 triliun ini, harus disiapkan Raperda karena untuk tahun 2015 dana untuk pengadaan bus hanya Rp677 miliar.

“Jika tahun ini kami beli busnya, datang pasti tahun depan. Karena, bus juga butuh istrahat sekitar 8 bulan untuk bus yang belum ada disini ya,” tuturnya.

Ia memaparkan, masih belum jelas berapa unit yang akan dibeli oleh PT TransJakarta. Semuanya, tergantung kemampuan dari ATPM guna mengadakan bus hingga tahun depan. Jadi, tidak menutup kemungkinan pengadaan itu melibatkan lebih dari satu perusahaan.

“Yang penting kualitasnya masuk, mereka punya brand yang musti dipertahankan. Mereka punya perwakilan disini, mereka juga servis disini dan punya suku cadang disini,” cetusnya.

PT Transjakarta meminta pihak ATPM memberi pelatihan untuk pramudi yang akan mengoperasikan bus tersebut secara langsung dan bukan dari simulator.

“Setiap ATPM kita minta untuk tahu apa yang boleh dilakuin supir mana yang enggak. Waktu kita latih supirnya benar-benar pake bus. Bukan latihan pake kendaraan lain,” tutupnya. (leny)