Angkasa Pura 2

Malaysia Airlines Semakin Mengerikan

KokpitMinggu, 20 Juli 2014
Malaysia-Flight-Attendant-T-420x0

JAKARTA (beritatrans.com) – Tragedi MH17 di Ukraina hanya berselang beberapa bulan sesudah lenyapnya pesawat MH370. Apa yang terjadi di Ukraina menjadi pukulan berat kedua bagi Malaysia Airlines, maskapai yang tengah berjuang bangkit dari kejatuhan finansial.

Jajaran eksekutif Malaysia Airlines hanya memiliki sedikit informasi untuk dibagikan soal MH17 di Kuala Lumpur, Kamis malam. Pesawat jenis Boeing 777 itu mengangkut 283 penumpang dan 15 awak. Malaysia Airlines pada Kamis membenarkan telah kehilangan kontak dengan MH17. Peristiwa terjadi saat pesawat terbang dalam ruang udara Ukraina, dekat perbatasan dengan Rusia.

Meski seluk-beluk jatuhnya pesawat masih misterius, Malaysia Airlines tetap menjadi sorotan media. Pasalnya, tragedi terjadi kala maskapai berbendera Malaysia itu masih memulihkan diri dari peristiwa lenyapnya MH370 pada Maret.

Penyelidik hingga kini belum menemukan tanda-tanda MH370. Eksekutif Malaysia Airlines dikritik, lantaran proses investigasi yang terlalu lambat. Calon penumpang pun membatalkan penerbangan. Kini, persoalan finansial ditambah dua kehilangan menguarkan pertanyaan tentang masa depan maskapai.

“Bagi suatu maskapai, sederet masalah ini hampir tak ada bandingannya,” papar Oliver Lamb, direktur pelaksana Pacific Aviation Consulting berbasis Sydney, seperti dikutip wsj.com. “Dua tragedi terjadi di saat maskapai terbelit kesusahan finansial.”

Petinggi intelijen Amerika Serikat pada Kamis mengonfirmasi MH17 ditembak jatuh rudal darat-ke-udara. Penembaknya masih misterius. Apapun hasil penyelidikan nanti, Malaysia Airlines akan menghadapi pertanyaan soal prosedur mereka, serta keputusan untuk menjadikan area konflik sebagai pilihan rute penerbangan.

Beberapa maskapai dalam bulan-bulan belakangan menghindari terbang di daerah timur Ukraina. Mereka tak ingin menempuh risiko buruk akibat konflik militer dan ketidakstabilan politik di sana. Pekan ini saja sebelum insiden MH17, sebuah pesawat kargo militer Antonov AN-26 dan jet tempur Sukhoi SU-25 milik Ukraina ditembak jatuh.

Meski berisiko tinggi, masih ada beberapa maskapai yang melintasi ruang udara Ukraina. Terbang pada ketinggian sekitar 30.000 kaki dapat menjauhkan mereka dari jangkauan meriam sandang antipesawat, yang mirip bazoka.

“Fakta bahwa ini semua bukan kesalahan maskapai bukan berarti Malaysia Airlines terbebas dari citra maskapai tak aman,” papar Andrew Charlton dari Aviation Advocacy. Sesudah MH370, katanya, “[Malaysia Airlines] tak lagi sama dengan maskapai lain.”

Lepas dari pasar penerbangan komersial yang bertumbuh di Asia, Malaysia Airlines menghadapi kompetisi ketat dari maskapai bertarif rendah. Tahun lalu, Malaysia Airlines mencatatkan kerugian 1,17 miliar ringgit. Kuartal I tahun ini maskapai merugi 443 juta ringgit.

“Dalam sejarah penerbangan…tak satu pun maskapai pernah menghadapi dua bencana besar dalam rentang empat bulan. Menurut saya, tak ada bukti sejarah yang bisa menyelamatkan [Malaysia Airlines] dengan mudah,” kata Mohshin Aziz, analis riset Maybank Investment Bank. Pelemahan saham maskapai itu tercatat 27,4% tahun ini sesudah insiden MH370, tambah Aziz, dan proyeksinya “kini lebih mengerikan.”

Mark Sherwin, presiden CorpWorld Group Inc, firma manajemen krisis di Toronto, mengatakan aksi cepat-tanggap Malaysia Airlines akan menjadi kunci penyelesaian bencana ini. Kredibilitas mereka bakal ditentukan seberapa baik dan seberapa cepat maskapai berkomunikasi dalam situasi darurat, sahutnya.

“Jika suatu perusahaan, khususnya yang menghadapi krisis besar belakangan ini, tidak sanggup menunjukkan bahwa mereka telah belajar dari pengalaman lampau dan bertindak tepat dalam krisis kedua, kerusakan terhadap brand perusahaan bakal fatal.”

MH17 merupakan saudara MH370, sesama Boeing 777-200ER yang menjadi tulang punggung armada jarak jauh Malaysia Airlines sejak akhir 1990-an. Lenyapnya MH370 memicu misi pencarian terbesar dalam sejarah penerbangan. Investigasi hingga kini masih berlangsung, termasuk penyisiran perairan selatan Samudra Hindia.

← Artikel Sebelumnya