Angkasa Pura 2

Berebut Berkah Gunungan Keraton Yogyakarta

DestinasiSelasa, 29 Juli 2014
Grebeg Syawal 1

YOGYAKARTA (beritatrans.com) – Ratusan orang yang memadati halaman Masjid Gede Kauman, Selasa memperebutkan empat gunungan Grebeg Syawal dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat karena dipercaya dapat memberikan berkah.

Pada prosesi Grebeg Syawal, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memberikan tujuh buah gunungan yang terdiri dari tiga Gunungan Kakung, dan masing-masing satu Gunungan Putri, Gunungan Gepak, Gunungan Pawon, dan Gunungan Anakan.

Seluruh gunungan tersebut dikeluarkan dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan dipimpin oleh Bregada Prajurit Surokarso diiringi empat ekor gajah dari Gembira Loka Zoo.

Sebanyak lima gunungan dibawa ke Masjid Gedhe Kauman, namun hanya empat yang diperebutkan oleh masyarakat umum, karena Gunungan Gepak langsung di bawa ke serambi masjid untuk diperebutkan oleh abdi dalem keraton.

Sedangkan dua Gunungan Kakung lainnya, diarak ke Puro Pakualaman dan ke Kepatihan atau Kantor Gubernur DIY. Gunungan Kakung adalah gunungan yang berbentuk menyerupai kerucut terbuat dari sayur mayur yaitu kacang panjang dan cabai merah.

Setelah sampai di halaman masjid, keempat gunungan tersebut kemudian didoakan oleh Penghulu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat KRT Kamaludiningrat dan kemudian diperebutkan oleh warga.

Dalam sekejap, keempat gunungan tersebut sudah habis bahkan warga pun rela membawa rangka gunungan yang terbuat dari bilah-bilah bambu untuk dibawa pulang.

Salah seorang warga yang ikut berebut gunungan, Retnowati mengatakan, sengaja datang ke Masjid Gedhe Kauman sejak pukul 08.00 WIB untuk memperebutkan gunungan.

Warga Kecamatan Gondomanan Yogyakarta itu pun memperoleh kacang panjang, serta bagian dari Gunungan Putri yang biasanya dikenal sebagai rengginang yaitu sejenis kerupuk yang terbuat dari ketan, hanya saja tidak berbentuk lingkaran namun dibentuk kecil-kecil dengan berbagai warna seperti merah, hijau dan kuning.

“Kacang panjangnya akan saya masak, sedangkan rengginang dipercaya untuk menolak bala,” katanya seperti dilansir Antara.

Pelaksanaan Grebeg Syawal pada tahun ini dilakukan pada hari kedua Lebaran, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang dilakukan pada hari pertama Idul Fitri atau sesudah shalat ied.

Penghulu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat KRT Kamaludiningrat mengatakan, perbedaan pelaksanaan grebeg tersebut disebabkan adanya perbedaan kalender antara kesultanan dengan penanggalan hijriah.

“Keraton menganut kalender Sultan Agung yang mendasarkan pada hisab ‘urfi’ atau rata-rata. Dari penanggalan tersebut, maka bulan puasa akan selalu dihitung 30 hari,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut dia, ada perbedaan penentuan tanggal 1 Syawal antara pemerintah dengan keraton karena pada tahun ini pemerintah menetapkan puasa selama 29 hari.

“Namun, karena grebeg adalah prosesi budaya, maka perbedaan penanggalan itu tidak mempengaruhi keluarga keraton dalam menentukan 1 Syawal. Keraton tetap mengikuti pemerintah dan grebeg tetap dilakukan sesuai penanggalan Sultan Agung,” katanya.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap bahwa gunungan tersebut bisa membawa berkah atau menolak bala. “Mitos atau kepercayaan itu tidak benar, masyarakat tidak boleh menganggapnya demikian karena hanya Allah yang bisa memberikan keselamatan,” katanya.

Sedangkan perebutan gunungan dinilai Kamaludiningrat sebagai perwujudkan kebersamaan masyarakat untuk memperoleh rezeki. (gilang)