Angkasa Pura 2

Nilai Kebahagiaan & Gaji Dirut Pertamina di Atas Rp200 Juta/Bulan

SDMKamis, 21 Agustus 2014
pedagang_gas_keliling_100723214350

JAKARTA (beritatrans.com) – Mantan Sekertaris Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Said Didu, buka rahasia soal gaji Direktur Utama Pertamina. Lebih dari Rp200 juta/bulan.

Kepada okezone.com, Kamis (21/8/2014), Said Didu membuka urusan gaji tersebut.

Sayangnya tidak diungkapkan tunjangan atau insentif di luar gaji, juga berbagai fasilitas menggiurkan selaku orang nomor satu BUMN papan atas tersebut.

Kalau kita kalkulasi selama setahun saja, maka seorang Dirut Pertamina mendapat Rp2,4 miliar. Dengan masa jabatan lima tahun dan bisa diperpanjang menjadi 10 tahun, maka duit gaji menjadi Rp24 miliar.

Ini di era reformasi ketika penegakan hukum begitu galak, bagaimana coba bayangkan betapa tajirnya menjadi Dirut Pertamina ketika era Orde Baru. Mungkin begitu repot menyimpan uang dari pendapatan resmi maupun tidak resmi.

Kembali ke urusan gaji Rp200 juta/bulan. Tanpa korupsi atau menerima upeti, duit sebesar itu sudah lebih dari cukup kalaupun memilih hidup mewah.

Uang dan pamor yang didapat dari posisi sebagai Dirut Pertamina memang bukan segala-galanya. Kebahagiaan memang tidak bisa dibeli atau diperjualbelikan, serta tak bisa ditransaksikan dengan model perdagangan apapun.

Pilihan untuk meninggalkan posisi dengan fasilitas berlimpah ditinggalkan Karen Agustiawan. Dia mengajukan pengunduran dirinya sebagai Direktur Utama Pertamina lantaran alasan pribadi yang ingin fokus mengurus keluarga dan diterima menjadi dosen di Harvard University, Boston, Amerika Serikat (AS).

Sekadar informasi, Karen Agustiawan dilantik sebagai direktur hulu pada 5 Maret 2008. Kemudian, pada 5 Februari 2009 dilantik sebagai Direktur Utama sehingga masa jabatannya sebagai anggota direksi untuk periode 5 tahun berakhir pada 4 Maret 2014.

Selanjutnya pada 5 Maret 2013, Pemegang Saham kemudian memutuskan memperpanjang masa jabatan Karen untuk periode 5 tahun kedua. Baru sekitar setahun memangku jabatan di periode kedua, dia mengundurkan diri.

Alasan mundur karena ingin konsentrasi mengurus keluarga sekaligus mengajar, memberikan hikmah tersendiri buat kita. Bahwa gaji besar dan jabatan bukan ukuran kebahagiaan sejati.

Jadi buat apa nguber-uber jabatan, sampai menghalalkan segala cara, kalau ternyata kebahagiaan yang didapat adalah semu?

Di akun twitternya, Deddy Mizwar bilang: Dunia dikejar, tapi liang kubur yang mendekat. Subhanallah. (agus w).

loading...