Angkasa Pura 2

Ada yang Salah Dalam Mengelola Obyek Wisata

DestinasiSabtu, 23 Agustus 2014
IMG_00000113

JAKARTA (beritatrans.com) – Pengamat kebijakan publik UI Andrinof Chaniago mengkritik kebijakan pemerintah yang tak mampu memanfaatkan aset dan objek wisata nasional. Indonesia mempunyai ribuan objek wisata menarik dari Sabang sampai Merauke. Tapi sejauh ini belum diberdayakan secara optimal sehingga memberikan nilai tambah secara ekonomi.

“Ada yang salah atau kurang  dalam pengelolaan aset dan objek wisata nasional. Data tahun 2013 silam,  jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia hanya 8,2 juta orang. Jumlah itu jauh dibanding Singapura yang mampu menarik wisatawan sampai 18 juta orang dan Malaysia sampai 28 juta orang,” kata Andrinof saat dihubungi di Jakarta, kemarin.

Banyak objek wisata di Tanah Air, mulai wisata alam dan lingkungan,  agrowisata, benda-benda purbakala dan bersejarah. Mulai dari gunung sampai ke lautan Indonesia menarik dan bisa dijual kepada wisatawan.

“Tapi mengapa jumlah wisatawan kita hanya 8,2 juta, jauh di bawah Singapura. Dia tak punya apa-apa, kecuali objek wisata batan seperti water boom, belanja atau objek wisata lain yang nota nene buatan  manusia,” tanya Andrinof diplomatis.

Oleh karena itu, perlu didorong dan dikembangkan objek wisata yang ada di seluruh Indonesia. Aset-aset nasional tersebut bisa diberdayakan menjadi objek wisata  yang mendatangkan devisa bagi negara.

“Singapura tak punya apa-apa kecuali kreativitas dan kerja keras bagaimana memaarkan produk mereka pada wisatawan. Hasilnya luar biasa, wisatawan yang berkunjung ke Singapura jauh lebih tinggi dari Indonesia. Kita perlu meniru sistem dan tata cara pemasaran mereka sehingga bisa menjual dan mengemas produk wisata nasional ke calon wisatawan  di dunia international,” papar Andrinof.

Untuk mendukung dan mempromosikan objek wisata tersebut, tambah putra Minang itu, maka sarana dan infrastruktur terkait harus dibenahi, mulai bandara, penerbangan, transportasi menuju objek wisata serta hotel dan restoran yang mendukung.

“Yang tak kalah pentingnya, bagaimana mengubah mind set orang Indonesia menjadi ramah dan welcome pada wisatawan, tanpa harus mengurbankan nilai-nilai kearifan lokal Indonesia,” tegas Guru Besar UI itu.* ujarnya. (helmi).

loading...