Angkasa Pura 2

Laba AirAsia Naik 5%

KokpitSenin, 25 Agustus 2014
M_Id_398956_AirAsia

JAKARTA (beritatrans.com) – Maskapai tarif rendah Malaysia, AirAsia Bhd, pada Rabu melaporkan kenaikan laba bersih di kuartal II berkat pendapatan dari valas.

Laba bersih grup dalam triwulan II, wsj.com memberitakan naik menjadi 367,2 juta ringgit, lebih tinggi dari 58,3 juta ringgit setahun sebelumnya, kata AirAsia. Sementara pendapatan naik 5% ke 1,31 miliar ringgit.

Meski demikian, laba operasi turun 17% ke 174 juta ringgit akibat terus meningkatnya harga bahan bakar dan kerugian yang dicetak maskapai afiliasi. Pengeluaran terbesar AirAsia adalah untuk bahan bakar, yang pada kuartal II melonjak 17% menjadi 582 juta ringgit.

Pendiri dan Group CEO AirAsia, Tony Fernandes, mengatakan tengah menyusun rencana guna membangkitkan maskapai-maskapai afiliasinya. Ini seperti mengurangi skala operasi dan menghentikan penerbangan di rute-rute yang membuatnya rugi.

“Saya sangat optimistis kerugian ini [akan] berusia pendek lantaran sebagian besar disebabkan oleh faktor eksternal seperti melemahnya mata uang lokal, iklim geopolitik, dan fluktuasi harga bahan bakar,” kata Fernandes dalam sebuah pernyataan setelah pengumuman laporan pendapatan AirAsia.

Maskapai diskon terbesar di Asia Tenggara berdasarkan pangsa pasar itu mengaku optimistis bahwa afiliasinya di Thailand, Indonesia, dan Filipina akan berkinerja lebih baik pada enam bulan terakhir 2014. Selain itu, harga tiket di pasar Malaysia juga akan kembali mencerminkan ongkos sebenarnya, terutama saat maskapai mengurangi laju pertumbuhan kapasitas.

Banyak maskapai di Asia dalam beberapa tahun terakhir agresif membeli pesawat dan menambah rute penerbangan. Ini guna mengantisipasi lonjakan permintaan dari turis dan konsumen bisnis di Asia Tenggara, yang relatif tak tersentuh krisis ekonomi global. AirAsia dan Lion Air dari Indonesia, maskapai budget yang dominan di Asia Tenggara, telah memesan lebih dari 1.000 pesawat untuk diantar dalam 10 tahun ke depan.

Namun, permintaan gagal melonjak dan margin semua maskapai di Asia justru tertekan.

AirAsia juga mengeluhkan harga tiket yang tak rasional, terutama di Malaysia. AirAsia harus bersaing dengan maskapai pemerintah, Malaysia Airlines, yang menawarkan diskon besar-besaran guna merebut hati konsumen yang takut terbang bersamanya setelah dua kecelakaan tahun ini. Insiden-insiden tersebut menewaskan 537 orang.

AirAsia memiliki saham di beberapa maskapai di Thailand, Indonesia, Filipina, dan India, yang semuanya merugi. Kompetisi yang ketat dari Lion Air dan melemahnya rupiah turut membebani afiliasinya di Indonesia, sementara kisruh politik merugikan Thai AirAsia.(brur)

loading...