Angkasa Pura 2

Ubah Paramater Layanan di Sektor Logistik

KoridorSenin, 25 Agustus 2014
IMG-20140727-03449

JAKARTA (beritatrans.com) – Pemerintah perlu merubah parameter perbaikan infrastruktur dan pelayanan sektor logistik nasional, bukan  berapa banyak dan berapa pajang ruas jalan yang dibangun. Tapi, berapa kecepatan kendaraan yang melaju di jalan nasional, sehingga kecepatan dan perbaikan pelayanan sektor transportasi kebih baik dan terukur.

“Semakin tinggi dan lancar laju kendaraan, kinerja logistik kita makin baik,” ujar mantan Semesneg BUMN M.Said Didu menjawab beritatrans.com di Jakarta.

Menurutnya, di negara-negara maju laju kendaraan khususnya truk angkutan barang bisa mencapai 80 km per jam. Sementara laju kendaraan di jalan nasional di Indonesia rata-rata hanya 15-20 km per jam.

“Implikasinya, distribusi barang dan jasa di Indonesia menjadi lambat dan memicu ekonomi biaya tinggi seperti sekarang,” katanya.

Biaya logistik di Indoensia berkisara 18-20%  dari total biaya operasi. Sementara, di negara maju hanya berkisar 12-13% bahkan ada negara yang bisa dibawah 10%.

“Artinya, biaya logistik di Indonesia sangat tinggi dan tidak efisien. Tingginya biaya logistik itulah yang perlu ditekan pemerintah ke depan,” papar Said.

Sebelumnya, anggota Organda M. Fauzi mengatakan, waktu tempuh bus AKAP khususnya rute Jakarta-Solo dulu bisa ditempuh dalam waktu 10-12 jam. Tapi, dengan kondisi infrastruktur yang buruk khususnya di pantura Jawa serta potensi kemacetan yang tinggi, waktu tempuh dari Jakarta-Solo mencapai 16 jam bahkan lebih.

“Jelas lebih boros konsumsi BBM/solar. Biaya operasi awak bus juga naik. Sementara, kita tak bisa serta merta menaikkan tarif buas AKAP meski untuk kelas non ekonomi,” kata Fauzi.

Menurut pengusaha PO. Safari itu, perbaikan jalan khususnya di Pantura Jawa memang harus dilakukan jika ingin meningkatkan pelayanan dan kecepatan laju kendaraan  di jalan raya.

“Kalau tak ada perbaikan serta respon yang cepat jika terjadi masalah di jalan seperti saat terjadi kecelakaan atau kasus lainnya, maka laju kendaraan di jalur Pantura Jawa akan sulit ditingkatkan. Hal itu bukan hanya dialami bus AKAP tapi juga truk angkutan barang karena jalurnya sama,” tegas Fauzi. (helmi)

← Artikel Sebelumnya
loading...