Angkasa Pura 2

Mobil Bahan Bakar “BBG” Enak dan Murah

KoridorSenin, 1 September 2014
BBG

JAKARTA (beritatrans)–Penggunaan bahan bakar gas (BBG) untuk transportasi memang sangat murah, hemat dan bersih atau ramah lingkungan. Sayang, proyek konversi dari bahan bakar minyak (BBM) ke BBG masih jalan di tempat alia lambat. “Inilah tugas kita bersama, pemerintah dan masyarakat untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat agar mereka perlahan beralih menggunakan BBG bagi kendaraan terutama mobil pribadi miliknya. Kendaraan dinas dari kantor sangat disarankan menggunakan BBG karena tidak boleh menggunakan BBM subsidi,” ujar orang pejabat yang berkantor di Silang Monas Jakarta, kepada beritratrans di Jakarta, Minggu (31/8) petang.
Menggunakan BBG sangat enak dan nyaman. Konsumsi bahan bakarnya juga irit dan murah. “Satu tabung BBG jenis CNG (compressed natural gas) penuh cukup Rp37.500 dengan harga Rp3.100 per liter setara premium (lsp). BBG tersebut cukup untuk satu setengah hari kerja, yaitu untuk pergi pulang dan sekali berangkat besuk harinya. Jika untuk jalan jauh ke Bandung misalnya, nanti pulang dari Bandung sampai KM 96 Ton Cipularang baru “merah” alias akan habis,” kata dia.
“Sejauh ini tak ada keluhan apa-apa menggunakan BBG untuk mobil operasional yang digunakan. Untuk perjalanan dinas ke Bandung atau Puncak Bogor misalnya, tidak ada masalah. Kalau keluar kota jauh dari Jakarta baru kesulitan mencari BBG karena SBPG-nya belum ada. Tapi, mobil-mobil keluaran terbaru sekarang sudah dual system jadi akan langsung menggunakan BBM sampai bisa mengisi BBG lagi,” cerita dia.
Jadi, mobil Honda Freed dari investaris kantor itu memang disiaplan dengan dual system bahan bakar, bisa BBM atau BBG. Tapi, mobil tersebut sejak awal dikonversi mampu menggunakan dua jenis bahan bakar, yaitu BBM dan BBG. “Tapi, karena lebih murah dan sesuai Surat Edaran Pemerintah kita tak boleh menggunakan BBM subsidi, maka sangat pas kita menggunakan BBG. Apalagi, tempat pengisian BBG ada di Silang Monas sisi selatan. Jika mau mengisi, tinggal kesana dan isi satu tabung CNG penuh,” papar pria yang tak mau disebutkan namanya itu.
Jika setiap kendaraan dinas pemerintah dan BUMN/ BUMD serius dan mau menggunaan BBG untuk mobil miliknya, maka ketergantungan pada BBM subsidi akan berkurang. Selain itu, tingkat pencemaran udara di Jakarta akan jauh berkurang, karena BBG lebih bersih dan ramah lingkungan. “Yang pasti, mobil-mobil BBG tidak harus antre d SPBU hanya untuk mendapatan BBM subsidi yang heboh bebarapa hari belakangan,” tegas pria asal Yogyakarta itu.(helmi)

loading...
  • Ajeng

    Ok.. Siip..