Angkasa Pura 2

Chandra Motik: Indonesia Terlambat Membangun Pelabuhan Cilamaya

DermagaRabu, 10 September 2014
chandra motik

JAKARTA (beritatrans.com)–Pakar hukum maritim dan akademisi FHUI Dr.Chandra Motik,SH mengapresiasi perkembangan rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya, Karawang, Jawa Barat. Proyek ini makin mendekati realisasi dan pembangunan fisik bisa dilakukan secepatnya.

“Kalau mau jujur, Indonesia sudah terlambat mengembangkan Pelabuhan Cilamaya itu. Seharusnya, pelabuhan itu sudah bisa dibangun dan segera dioperasikan. Untuk mengatasi kemacetan lalu lintas dan kepadatan di Pelabuhan Tanjung Priok, perlu ada pelabuhan lain di Timur Jakarta,” kata Chandra kepada beritratrans.com di Jakarta, Rabu (10/9).

Pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan, bandara, jembatan, jalan dan lainnya seharusnya dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi satu negara. “Jika ekonomi negara tumbuh 5,5% maka pertambahan infrastruktur nasional harus lebih besar dari itu. Tapi realita yang terjadi sangat lambat termasuk rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya pun begitu (oambat),” kata Chandra lagi.

Pengalaman di Malaysia misalnya, lebih cerdas dan bisa membangun pelabuhan baru yang lebih besar dari Tanjung Priok Jakarta.

“Saat krisis ekonomi melanda Asia yang pertama tahun 1997-1998, Malayisa membangun Pelabuhan Tanjung Pelepas. Pelabuhan itu mampu menampung kelebihan cargo di Singapura dan kini jauh lebih besar dari Tanjung Priok Jakarta yang sudah berusia ratusan tahun,” papar Chandra.

Kasus terakhir yang menghambat proyek Pelabuhan Cilamaya antara lain, protes dari para pihak, seperti PT Pertamina (Persero), PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II, khususnya Dirutnya RJ Lino.

“Dia kurang setuju dengan pembangunan Pelabuhan Cilamaya. Sedang Pelindo II sudah menggarap Pelabuhan Kalibaru yang nota bene pasarnya sudah jelas, muntahan dari Tanjung Priok,” terang Staf Ahli KSAL itu lagi.

Kini, setelah ada rencana pergeseran titik pembangunan Pelabuhan Cilamaya sekitar 3 km dari rencana semula, resistensi para pihak makin reda.

“Pertamina sudah mulai melunak. Pelindo II juga begitu. Semua pihak harus bijak dan bisa menerima. Untuk masa depan, Indonesia butuh pelabuhan besar seperti Cilamaya. Pelabuhan itu akan mampu melayani petikemas, curah cair dan kering, car port bahkan dermaga kapal ro ro. Selain itu Pelabuhan Cilamaya akan terintegrasi dengan Bandara Karawang yang akan dibangun kemudian.” tegas Ketua ILUNI itu.(helmi)