Angkasa Pura 2

Malu Dong, Mobil Mewah Beli BBM Subsidi

KoridorRabu, 10 September 2014
Okezone

JAKARTA (beritatrans.com)–Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) non subsidi naik sekitar 25% sejak pembatasan BBM subsidi diterapkan. Tapi, angkanya belum signifikan dibandingkan BBM subsidi. Orang-orang yang naik mobil mewah seharunys malu membeli premium atau BBM subsidi yang menjadi hal orang miskin.

“Data Pertamina konsumsi BBM nonsubsidi rata-rata 1.700 KL per hari. Kini, jumlah itu naik menjadi 2.500 KL per hari,” VP Feul Retail Marketing PT Pertamina M.Iskandar di Jakarta, Rabu (10/9).

Menurut pejabat Pertamina itu, kita harus mendidik masyarakat. Bagaimana hidup hemat BBM. “Bagi orang kaya, jangan lagi mengkonsumsi BBM subsidi. Masa naik mobil mewah mengkonsumsi BBM subsidi. Malu dong,” tandas Iskandar.

Selama ini, konsumen BBM subsidi paling besar di sektor transportasi. “Total konsumsi BBM Indonesia mencapai 1,3 juta KL per hari. Jumlah itu sebagian besar BBM subsidi,” papar Iskandar.

Yang menjadi masalah sekarang, aku dia, kuota BBM subsidi di APBN P 2014 dipatok 46 juta KL. “Jumlah itu harus dihemat agar sampai tanggal 31 Desember 2014. Jika melebihi angka tersebut Pertamina tak dibayar oleh negara,” terang Iskandar.

Di tempat terpisah, Wamen ESDM Susilo Sisoutomo mengatakan, langkah pengendalian konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi sering mengalami jalan buntu. Ini karena ada saja ide usil masyarakat untuk mengakali kebijakan tersebut. Sehingga masyarakat bisa tetap mendapat keuntungan atas kelemahan kebijakan yang diterapkan.

“Masyarakat kita sangat kreatif dan inovatif untuk melanggar. Dibatasi jam penyalurannya malam, mereka beli pagi. Dilarang beli di tol, belinya di luar tol,” kata Susilo dalam seminar ‘Pengalihan Subsidi BBM untuk Pembangunan Infrastruktur Transportasi dan Ekonomi Kreatif’.

Dia mengatakan, seringnya masyarakat mengakali kebijakan pemerintah timbul, lantaran mental bangsa Indonesia belum terbangun dengan baikm untuk ikut bertanggung jawab atas kelangsungan penyediaan energi di negaranya sendiri. “Dikatakan 77% subsidi ini yang menikmati orang kaya yang merasa miskin. Ini kan urusan hati, urusan mental,” sambungnya.

Namun demikian, kata Susilo, langkah pembatasan konsumsi BBM subsidi yang dilakukan pemerintah tidak pernah sia-sia. Dengan adanya berbagai langkah yang dilakukan pemerintah untuk melakukan pembatasan BBM subsidi ini, mulai banyak masyarakat yang menyadari, bahwa isu ketahanan energi ini merupakan langkah yang penting untuk dijalankan dan didukung.

“Dengan langkah pengendalian kita mencoba mendidik ke masyarakat supaya mulai sadar, ternyata kondisi ini penting loh. Ini perlu dikontrol loh. Yang penting adalah masyarakat disadarkan dulu. Jadi mau nggak mau harus dimulai itu yang namanya pengendalian,” pungkas Wamen ESDM itu.(helmi)

loading...