Angkasa Pura 2

BPSDM Perhubungan Adalah “Investasi” Jangka Panjang

SDMKamis, 11 September 2014
beritatrans.com

JAKARTA (beritatrans.com)–Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Perhubungan mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp2,4 triliun tahun 2014. Dana tersebut yang murni untuk kependidikan hanya Rp1,7 triliun. Jumlah itu termasuk bagian dari 20% APBN yang dialokasikan untuk sektor pendidikan.

“Memang cukup besar. Tapi jika dibandingkan dengan kebutuhan di lapangan masih kurang. Jumlah tersebut hanya sebesar 40% dari usulan yang kita butuhkan ke Pemerintah dan DPR,” ujar Kepala BPSDM Perhubungan Wahyu Satrio Utomo (Tommy) kepada beritatrans.com di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, saat ini tugas dan kewajiban BPSDM Perhubungan adaah mendidik dan melatih seluruh SDM Perhubungan baik di pusat dan daerah. Termasuk pendidikan taruna dan taruni sekolah-sekolah dibawah BPSDM Perhubungan. “Di sekitar Jabodetabek ada sekitar 6.500 taruna. Mereka ada di STIP, STPI, STTD. Selain itu masih ada kampus-kampus lain baik sekolah untuk moda laut, udara serta darat. Mereka tersebar di seluruh Indonesia dan butuh dana dari BPSDM Perhubungan,” kata Tommy lagi.

BPSDM Perhubungan adalah lembaga yang berorientasi jangka panjang. Hasil kerja sekolah-sekolah baik kepada taruna atau aparatur sekalipun belum tentu bisa dilihat sekarang. “Investasi di bidang SDM utuh dana besar dan jangka panjang. Pendidikan itu untuk menghasilkan SDM dengan kualitas unggul. Implikasinya, mereka mampu bekerja profesional dan memberikan pelayanan prima,” terang Tommy.

“Mendidik dan mempersiapkan SDM dengan mind set yang bagus, berwatak melayani dan semangat kerja tinggi tidak mudah. Sebagai aparatur pemerintah ke depan, harus mampu melayani. Zaman sudah berubah, paradigma sudah berganti. Menjadi aparat pemerintah harus melayani, bukan sebaliknya minta dilayani,” urai Tommy.

“Apalagi, fasilitas praktikum dan sarana latihan seperti STPI butuh pesawat, avtur, bandara dan lainnya yang hargaya mahal dan butuh biaya perawatan tinggi. Jadi, jangan lihat hasil kerja BPSDM Perhubungan sekarang, tapi untuk jangka panjang,” papar Tommy.

Untuk mendidik dan mempersiapkan peserta didik khususnya taruna dan taruni unggul butuh fasilitas praktikum yang cukup. Mendidik taruna menjadi pelaut handal atau pilot profesional mutlak butuh sarana laboraturium yang bagus. Selain itu, ada simulator kapal atau pesawat yang bagus. Mereka juga butuh latihan terbang atau berlayar. “Jika tak ada alat, bagaimana mereka bisa menjadi profesional. Semua itu butuh dana besar dan biaya perawatan yang tinggi,” tegas alumnus S-II UI itu.(helmi)