Angkasa Pura 2

Kemenhub Belum “Setujui” Kenaikan Tarif Penerbangan

KokpitJumat, 12 September 2014
Garuda-Boeing-777-300er

JAKARTA (beritatrans.com)–Kementerian Perhubungan (Kemenhub) belum bisa memutuskan kenaikan tarif angkutan udara nasional berjadwal kelas ekonomi. Sampai saat itu, patokan kurs dolar AS di APBN belum diputuskan.

“Kita dengan sangat terpaksa belum bisa memutuskan kenaikan tarif penerbangan itu. Patokan kurs dolar AS di APBN belum disepakati,” kata Direktur Angkutan Udara Nasional Kemenhub Djolo Moerjatmodjo di Jakarta, Jumat (12/9).

Diakui, saat ini beberapa komponen tarif angkutan udara nasional sudah naik semua. “Kurs dolar di kisaran Rp11.400, harga avtur mencapai Rp12.000 per liter. Belum lagi laju inflasi yang juga terus naik,” kata Djoko.

“Kita mengerti derita airline nasional. Tapi pemerintah juga tak bisa sembarangan menyetujui usulan kenaikan tarif dari INACA. Kita harus sabar daripada nanti bermasalah,” jelas Djoko lagi.

Komponen tarif dan biaya operasi maskapai penerbangan yang paling besar adalah avtur, kurs dolar. Keduanya mencapai 50% lebih dari biaya operasi sebuah maskapai. “Memang tak ada subsidi BBM di penerbangan, tapi setiap harga BBM naik pasti terkena dampaknya,” urai pejabat Kemenhub itu.

Untuk itu, Kemenhub sudah berinisiasi mengundang maskapai nasional untuk membahas masalah ini serta mencarikan solusi yang terbaik. “Yang paling bisa dilakukan adalah menghilangkan hal-hal diluar aspek penerbangan tapi ikut membebani. Itu yang harus dihilangkan,” papar Djoko.

“Seperti kewajiban pencadangan nasional (untuk stok BBM). Itu cukup membebani tapi bukan masuk komponen tarif. Ini yang kita minta dihilangkan,” terang Djoko.

“Kemenhub melalui kebijakannya akan selalu mendukung dan melindungi maskapai dan dunia usaha nasional. Tapi bukan berarti semua usulan terus bisa disetujui,” tegas Djoko.(helmi)