Angkasa Pura 2

Ditjen Hubla-IMO Adakan Workshop Penanggulangan Tumpahan Minyak di Laut

DermagaSelasa, 16 September 2014
Tumpahan Minyak

JAKARTA (beritatrans.com) – Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) Kementerian Perhubungan bekerjasama dengan International Maritime Organization (IMO) menyelenggarakan workshop penanggulangan bahaya tumpahan minyak di lepas pantai di Jakarta, 16 – 18 September 2014.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai, Tri Yuswoyo yang mewakili Direktur Jenderal Perhubungan Laut Capt. Bobby R Mamahit menjelaskan bahwa workshop ini diselenggarakan guna memberikan masukan, pengetahuan, dan sharing pengalaman kepada lembaga-lembaga yang merupakan anggota dari Tim Nasional yang menangani kesiapan sistem penanggulangan tumpahan minyak.

Tri Yuswoyo berharap agar para peserta workshop, yang berasal dari otoritas, lembaga, dan stakeholder maritime yang terkait dengan perlindungan lingkungan dapat memberikan perhatian penuh terhadap bahan presentasi dan saran-saran yang didapatkan dari workshop.

“Kegiatan ini dapat memberikan kita keuntungan besar untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang lebih banyak dalam menangani masalah teknis dan hukum terkait dengan kesiapan sistem penganggulangan tumpahan minyak,” kata Yuswoyo.

Menurutnya, pencemaran lingkungan laut merupakan masalah yang dihadapi oleh masyarakat bangsa-bangsa. Pengaruhnya dapat menjangkau seluruh aktivitas manusia yang berada di lautan. Selain itu, karena sifat laut yang berbeda dengan darat, maka masalah pencemaran laut dapat memengaruhi semua negara pantai, baik negara berkembang maupun negara-negara maju. Oleh karena itu, perlu disadari bahwa masalah pencemaran lingkungan laut adalah masalah lintas batas, karena semua negara pantai mempunyai kepentingan terhadap masalah tersebut.

Indonesia sendiri sudah memiliki beberapa pengalaman terkait penanggulangan musibah tumpahan minyak di laut dari kapal, antara lain dari Kapal Showa Maru dan Kapal MT. Nagasaki Spirit di Selat Malaka pada tahun 1975 dan 1992; Kapal Tanker Evoikos di Selat Singapura (1997), Kapal MT. Natuna Sea di Pulau Sambu (2000) dan insiden Sumur Minyak Montara di Laut Timor (2009).

“Semua pengalaman tersebut menegaskan perlu dan pentingnya mengkolaborasikan sumber daya lokal, regional, nasional, bahkan internasional untuk menangani masalah tersebut,” tuturnya.

Untuk itu, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, bekerjasama dengan International Maritime Organization (IMO) dan International Petroleum Industry Environmental Conservation Association (IPIECA), melalui program Global Initiative of Southeast Asia (GISEA), menyelenggarakan National Workshop on National Oil Spill Contingency Plan tersebut.

Hadir sebagai pembicara Konsultan dari IPIECA, Dr. Ian Borthwick dan Mr. Yogaraj Retnam, serta Project Manager GISEA, Mr. Joselito Guevarra. (aliy)

loading...