Angkasa Pura 2

Capt. Rudiana: Pelaut Profesi Menantang Tapi Penghasilan Besar

FigurKamis, 18 September 2014
rudiana4 STIP

TANGERANG (beritatrans.com)–Pelaut adalah profesi yang menantang dan penuh bahaya tapi penghasilan besar. Hanya sosok yang berani, profesional dan pantang menyerah bisa sukses menjadi pelaut. Pelaut adalah profesi yang paling banyak dicari di dunia dan menjanjikan kesejahteraan tinggi.

Demikian disampaikan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, Capt.Rudiana Muchlis kepada beritatrans.com di sela-sela Wisuda Terpadu Pewira Transportasi di Komplek STPI Curug, Tangerang, Kamis (18/9). “Kebutuhan perwira pelaut dunia dan juga Indonesia sangat tinggi. Terbuka peluang untuk merintis karier yang menjanjikan ini,” aku dia.

Menurutnya, sedikitnya 40% lulusan STIP setiap tahun langsung bekerja di perusahaan pelayaran asing. Sementara, perusahaan pelayaran nasional juga banyak membutuhkan tenaga pelaut profesional terutama di level perwira. “Para taruna STIP, itu sudah dipesan sejak smester IV dan V STIP. Kondisi itu mengindikasikan kebutuhan akan tenaga pelaut profesional sangat tinggi,” kata pejabat Kemenhub itu.

Menurutnya, saat ini kebutuhan pelaut dunia termasuk Indonesia tinggi. Hampir tak pernah ada alumni STIP yang menganggur. Link and match sekolah-sekolah transportasi khususnya pelaut sangat tinggi. “Paling lama tiga bulan setelah wisuda, langsung diserap dunia kerja. Kinerja dan ketrampilan mereka tak kalah dibanding alumi sekolah lain di dunia. Satu hal yang perlu diingat, gaji pelaut di kapal asing bisa mencapai US$9.000 per bulan. Coba hitung berapa nilainya jika di kurs ke rupiah,” kata Rudiana.

Kondisi tersebut membuktikan link and match sekolah pelaut di Indonesia khususnya STIP memang tinggi. “Hari ini, ada 338 orang diwisuda Menhub menjadi perwira transportasi laut, baik pelaut atau teknisi. Mereka sudah langsung bekerja,” jelas Rudiana.

Dikatakan, meski kebutuhan tinggi dan Indonesia mempunyai peluang untuk mengisinya, namun STIP tetap mempunyai keterbatasan. “Kita hanya bisa menerima taruna-taruni baru sesuai kapasitas dan kemampuan lab yang ada. Tak mungkin kita mendidik calon pelaut tapi tak punya lab, simulator dan alat pendukung lainnya,” aku Rudiana.

Perwira pelaut bukan profesi sembarangan dan bisa dilakukan setiap orang. “Butuh wawasan keilmuan yang luas, mereka butuh ketrampilan praktis di lapangan. Sayang lucu jika sekolah pelaut tapi para tarunanya tak mempunyai pengalaman berlayar atau paling tidak simulator kapal laut. Semua itu sangat dibutuhkan dan tidak semua bisa dipenuhi sekolah-sekolah yang ada,” papar nakhoda itu.

Ditambahkan Rudiana, pihak STIP juga memberikan kesempatan bagi sekolah-sekolah swasta untuk belajar dan berlatih di simulator miliknya. “Disinilah kita harus berbagi dan kemampuan kita mendidik dan menyiapkan tenaga pelaut masih terbatas,” tegas dia.(helmi)