Angkasa Pura 2

Ditjen Hubla Mengajak Pemda Aceh Jaya Optimalkan Pelabuhan Calang

DermagaKamis, 18 September 2014
IMG_00000281_edit_edit

JAKARTA (beritatrans.com) – Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengajak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Jaya mengoptimalkan pemanfaatan Pelabuhan Calang. Pasalnya, sejak Pelabuhan ini dibangun dan dioperasikan pada tahun 2013, kondisinya hingga sekarang masih sepi dari kegiatan turun dan naik penumpang, juga barang.

“Kondisi seperti ini tentunya tidak bisa dibiarkan terus berlarut, infrastruktur pelabuhan yang telah dengan susah payah dibangun oleh Kementerian Perhubungan tersebut harus lebih dioptimalkan,” kata Pelaksana Harian Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Calang Capt. Nailan dalam keterangan tertulis yang dikeluarkan Humas dan KSLN Ditjen Perhubungan Laut di Jakarta, Kamis (19/9/2014).

IMG_00000282_edit

Pelabuhan Calang yang masih merupakan pelabuhan unit pelaksana terlihat lebih mentereng dan lengkap jika dibandingkan dengan pelabuhan-pelabuhan tetangganya seperti Pelabuhan Kelas V Meulaboh, Aceh Barat dan Pelabuhan Kelas IV Malahayati, Banda Aceh. Padahal Pelabuhan Calang termasuk pelabuhan yang kerusakannya paling parah akibat gempa dan gelombang tsunami akhir 2004 lalu.

Sejak 2009, Kementerian Perhubungan membangun kembali Pelabuhan Calang dengan menggunakan dana APBN sekitar Rp120 miliar. Selain memiliki dermaga dengan panjang total 300 meter, pelabuhan ini dilengkapi dengan terminal penumpang, pergudangan, dan perkantoran. Luas area perkantorannya sendiri mencapai 3.000 M2.
Sedangkan untuk mengaktifkan kembali lalu lintas laut, baik penumpang maupun barang, Kementerian Perhubungan menempatkan satu kapal perintis yaitu KM Mitra Bahari.

Berdasarkan data-data dari KUPP Calang, tampaknya masyarakat Aceh Jaya masih belum memanfaatkan keberadaan Pelabuhan Calang secara optimal.

Padahal menurut Capt. Nailan, sebelum luluh lantak oleh gelombang tsunami pelabuhan ini terkenal dan ramai sebagai tempat pengangkutan kayu gelondongan (log). Tetapi sekarang, sejak Januari hingga Agustus 2014, jumlah barang yang diangkut melalui Pelabuhan Calang hanya 250 ton. Sedangkan penumpangnya hanya 787 orang.

“Kami Kementerian Perhubungan telah menyediakan berbagai fasilitas pelabuhan dan juga termasuk kapal pengangkutnya,” ujar Nailan yang didampingi petugas Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Pelabuhan Calang Azwani Amru.

Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya sepertinya harus segera bergandengan tangan dengan semua stakeholder termasuk dengan para pengusaha kelapa sawit dan tambang batubara untuk berupaya memanfaatkan pelabuhan dan transportasi laut secara maksimal. Salah satu caranya tentu saja dengan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, baik industri, perdagangan, dan jasa, termasuk pariwisata. (aliy)

loading...