Angkasa Pura 2

Kemenhub Segera Tenderkan Trayek Pelayaran Perintis 2015

DermagaJumat, 3 Oktober 2014
Kapal Perintis

JAKARTA (beritatrans.com) – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan segera membuka tender trayek pelayaran perintis di Tanah Air untuk tahun anggaran 2015. Tender itu direncanakan dimulai bulan November-Desember tahun ini.

“Saat ini, baru ada 84 trayek pelayaran perintis di Indonesia yang beroperasi di 30 pangkalan dan 503 pelabuhan singgah. Tapi, kapal negara (KN) yang dimiliki dan dioperasikan baru 54 unit. Selebihnya masih dilayani dengan kapal kargo, tapi difungsikan untuk mengangkut penumpang. Jadi, memang masih perlu peningkatkan kualitasnya,” ujar Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kemhub RI Harry Boediarto di Jakarta, Kamis (3/10/2014).

Dikatakan, hasil studi yang dilakukan Indonesia membutuhkan 96 trayek kapal perintis untuk memberikan pelayanan yang lebih baik khususnya pada penduduk di daerah terpencil atau pulau-pulau terluar Indonesia.

“Mereka saudara kita, WNI yang harus dilayani. Putra-putri mereka butuh sekolah agar pintar dan bisa hidup lebih sehat dan baik. Itulah urgensi pemerintah membuka pelayaran perintis itu,” kata Harry.

Menurutnya, saat ini voyage kapal perintis rata-rata masih 14 hari. Sehingga masih dirasakan kurang ideal karena masa tunggu penumpang sangat lama.

“Voyage yang ideal sebetulnya 7 hari. Sehingga calon penumpang pun tidak terlalu lama menunggu kapal datang,” tutur Harry.

Tetapi untuk mencapai voyage yang ideal tersebut, Harry mengatakan perlu tambahan trayek dari 84 menjadi 192 trayek. Dengan demikian berarti perlu tambahan kapal perintis dan sekaligus dana untuk membiayainya.

“Sebetulnya kondisi seperti itu bisa dicarikan jalan keluarnya asalkan ada keberpihakan pemerintah. Misalnya dengan mengalihkan subsidi BBM untuk membiayai kapal-kapal perintis yang memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang tinggal di pulau-pulau terpencil,” katanya.

Setiap tahun, layanan trayek kapal-kapal perintis selalu ditenderkan secara terbuka. Semua pelaku usaha terkait bisa ikut mengikuti proses yang terbuka itu. “Selama mereka memenuhi syarat dan proses beauty contest yang ada, tentu terpilih sebagai pemenang. Nilai proyek perintis itu rata-rata Rp6 miliar sampai Rp7 miliar per trayek per tahun,” papar Harry.

Proyek perintis memang tak semata-mata bernilai ekonomi. Bagi pemerintah, yang penting memberikan pelayanan lebih baik dan mendorong penciptaan lapangan kerja baru di masyarakat. “Dengan dana APBN itu, diharapkan memberikan nilai tambah yang besar bagi rakyat dan bangsa. Jadi, fungsi pelayanan dan pemerataan yang lebih diutamakan,” tegas Harry.(helmi)