Angkasa Pura 2

Kepala BPSDM: Perbesar Beasiswa agar Lebih Banyak Siswa Tak Mampu Secara Ekonomi Dididik di STPI

SDMSabtu, 4 Oktober 2014
IMG_20140915_113528_edit

JAKARTA (beritatrans.com). – Sulitnya mendapatkan tenaga ahli penerbangan sebagai instruktur atau dosen di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) diupayakan diselesaikan lewat rekrutmen taruna dengan menggunakan pola ikatan dinas.

Kesulitan itu, Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan (BPSDMP) Kementerian Perhubungan, Wahyu Satrio Utomo, mengemukakan muncul sebagai konsekuensi logis dari mahalnya biaya pendidikan di sekolah tersebut.

Satu taruna dengan konsentrasi pendidikan sebagai penerbang diperkirakan mesti mengeluarkan dana hampir Rp600 juta untuk menuntaskan seluruh proses pendidikan. “Biaya sebesar itu hasil dari pengurangan biaya bersumber dari subsidi APBN’” ungkap pejabat eselon I, yang akrab dipanggil ‘Pak Tommy’ itu.

Karenanya, dia mengutarakan akan membicarakan dengan DPR dan instansi lain, seperti Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi, agar diterapkan model ikatan dinas seperti yang mulai diberlakukan di Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD).

“Selama ini, memang ada semacam pola pembibitan di STPI. Seluruh biaya ditanggung oleh APBN, Hanya saja terbatas hanya sekitar 25 taruna,” ungkap mantan staf ahli menteri perhubungan dan Sekretaris BPSDMP tersebut.

Dia berharap lebih besar lagi alokasi anggaran beasiswa di STPI. “Bagi taruna yang dinilai memiliki potensi di atas rata-rata maka diberi kesempatan untuk mendapatkan beasiswa,” tuturnya.

Tommy menuturkan penilaian tersebut bisa didapat saat seleksi penerimaan calon taruna serta ketika proses belajar dan mengajar berlangsung. “Seleksinya tentu harus lebih profesional dan obyektif,” cetusnya.

Lebih besarnya pemberian beasiswa dalam pola ikatan dinas tersebut, dia menegaskan juga bertujuan agar kesempatan mendapatkan pendidikan di STPI dapat dinikmati oleh generasi peneres bangsa, termasuk di dalamnya kalangan dengan ekonomi tidak mampu.

Secara bersamaan, dia mengutarakan diperbesar lagi kapasitas STPI dansekolah penerbangan lain di lingkungan BPSDMP. “Selama ini, kapasitas terpasang tidak mampu menampung demand,” ungkapnya.

LINK AND MATCH
Dibutuhkannya lebih besar anggaran untuk pengembangan pendidikan tersebut, termasuk pemberian beasiswa, Wahyu Satrio Utomo menegaskan karena lembaga pendidikan di lingkungan BPSDMP amat efektif dalam aplikasi pola link and match.

“Bisa dikatakan 100 persen perwira lulusan sekolah di lingkungan BPSDMP diserap oleh pasar kerja. Mereka bisa langsung tune-in bahkan lebih andal dan prima ketika bekerja,” ujarnya.

Mereka tidak hanya diserap oleh maskapai penerbangan, Tommy mengungkapkan tetapi juga oleh pengelola airport dan Kementerian Perhubungan. (awe).