Angkasa Pura 2

Ditjen Hubla Gelar Workshop Skema Audit Anggota IMO

DermagaRabu, 8 Oktober 2014
Gedung Imo 1

JAKARTA (beritatrans.com) – Sebanyak 27 orang peserta yang berasal dari 16 negara seperti Bangladesh, Brunei Darussalam, Kamboja, Korea Selatan, Korea Utara, Indonesia, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Filipina, China, Singapura, Srilangka, Timor Leste, Thailand dan Vietnam, mengikuti kegiatan Regional Workshop for Asia on The Implementation of The IMO Member State Audit Scheme (IMSAS) yang berlangsung dari tanggal 6 s.d.10 Oktober 2014 bertempat di Hotel Grand Mercure Jakarta.
 
“Workshop ini merupakan kegiatan yang berada di bawah kerangka IMO Integrated Technical Co-operation Programme untuk meningkatkan kapasitas individu maupun institusional, khususnya bagi negara anggota IMO di kawasan Asia untuk mempersiapkan diri menghadapi audit IMSAS pada 1 Januari 2016 mendatang,” kata Kepala Humas dan KSLN Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) Sindu Rahayu melalui keterangan pers yang diterima beritatrans.com di Jakarta, Rabu (8/10/2014).

IMO telah mengadopsi banyak instrument terkait keselamatan dan keamanan pelayaran serta perlindungan lingkungan maritim, Sebagai anggota IMO. “Kita memiliki kewajiban dan tanggungjawab untuk mengimplementasikan berbagai instrument tersebut,” kata Sindu.
 
Selama lima hari, para konsultan dari IMO akan memberikan pengetahuan dan pemahaman terkait persiapan negara-negara anggota dalam menghadapi Audit IMSAS. Berbagai materi terkait prosedur dan kerangka audit serta kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh negara yang akan diaudit disampaikan oleh du orang konsultan IMO, yaitu Mr. Jens Uwe Schroder Hinrichs (Jerman), dan Mr. Jangho Bag (Korea Selatan). Selain itu turut hadir perwakilan dari IMO, Mr. Moin Ahmed yang bertindak sebagai fasilitator.
 
Workshop dibuka secara resmi oleh Direktur Perkapalan dan Kepelautan (Dir Kapel), Capt. Sahattua Simatupang yang mewakili Dirjen Perhubungan Laut.
 
Dalam sambutannya, Sahattua menyampaikan bahwa dalam workshop ini para konsultan dari IMO akan memberikan pelatihan kepada para auditor dan membekali mereka dengan pengetahuan dan keahlian tentang bagaimana cara mengimplementasikan skema audit.
 
“Pelatihan ini menjadi penting karena skema audit merupakan alat untuk menilai sejauh mana negara-negara anggota IMO melaksanakan kewajiban-kewajibannya yang tertuang dalam instrumen-instrumen IMO yang terkait dalam ruang lingkup keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan maritim, yang terdiri dari SOLAS, MARPOL, COLREG, TONNAGE, LOADLINES, dan STCW” kata Sahattua.
 
Adapun Indonesia sendiri akan diaudit secara voluntary oleh IMO pada 18 hingga 27 Oktober 2014. Pelaksanaan audit ini dilakukan sebagai persiapan agar nantinya Indonesia akan lebih siap ketika dilakukan audit secara mandatory di tahun 2016 mendatang.  (aliy)

loading...