Angkasa Pura 2

Lion Kucurkan Rp6 Triliun Bangun MRO di Batam

KokpitRabu, 15 Oktober 2014
IMG_00000257

JAKARTA (beritatrans.com) – Lion Group mengucurkan biaya sekitar Rp6 triliun untuk membangun pusat perawatan mesin atau engine maintenance repair overhaul (MRO) di Batam pada 2018.

“Kalau satu kompleks (MRO dan hanggar) jadi, ini investasinya hampir Rp6 triliun,” kata Direktur Umum Lion Air Edward Sirait di Jakarta, Rabu (15/10/2014).

Edward menyebutkan investasi tersebut terdiri atas Rp5 triliun–Rp5,5 triliun untuk MRO dan Rp2 triliun untuk peralatan (equipment) pesawat.

Pasalnya, kata dia, MRO terintegrasi akan dibangun di atas lahan seluas 28 hektare di kawasan Bandara Hang Nadim, Batam.

Dari luas tersebut, seluas 4 hektare tanah telah dimanfaatkan untuk pembangunan empat hangar dengan kapasitas 12 pesawat B737NG pada awal 2014.

Saat ini, kata Edward, pihaknya telah menyiapkan 10 hektare tanah untuk dibangun MRO yang di dalamnya terdapat CFM56-5B, CFM56-7B, dan LEAP “engine shop” dengan luas sekitar 1,3 hektare.

Pada areal yang sama, lanjut dia, juga akan dibangun “engine shop” untuk jenis turbo prop dan pengembangan turbo fan engine shop, APU shop, landing gear shop, component shop, structure repaire shop, dan emergency equipment shop.

Dengan demikian, lanjut dia, dengan kapasitas tersebut MRO mampu melakukan perbaikan besar (overhaul) sebanyak 200 mesin setiap tahunnya di mana 135–150 mesin sudah diserap untuk kebutuhan Lion Group.

“Ini sudah ‘totally complete’, terutama untuk menghemat biaya ditambah menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015,” katanya seperti dilansir Antara.

Dengan kapasitas tersebut, lanjut dia, pihaknya bisa menyerap hingga 5.000 tenaga terampil dan ahli penerbangan sehingga bisa menyerap biaya tenaga kerja (labour cost) serta biaya logistik.

Dia menambahkan, dari sisi perawatan pesawat, juga akan mampu menghemat pengeluaran biaya transportasi dan mengefisienkan tingkat kebutuhan cadangan suku cadang dan mesin sebesar 15-20 persen.

Edward menyembutkan, dari sisi biaya operasional penerbangan, pembangunan MRO juga akan berkontribusi dalam penghematan devisa sebanyak 40 persen yang biasanya dikeluarkan untuk perawatan mesin dan komponen pesawat dari luar negeri.

Dalam hal ini, Lion Group bekerja sama dengan CFM dalam penyediaan dan perawatan mesin maupun konsultasi terkait dengan MRO yang jangka waktunya 25 tahun dan penyediaannya hingga 1.000 mesin.

Edward berharap dalam waktu tiga tahun enam bulan ke depan, MRO terintegrasi tersebut sudah bisa beroperasi yang sudah mendapatkan sertifikat dari Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara atau DGCA dan standar internasional dari FAA dan EASA.

Saat ini jumlah armada Lion Group sebanyak 163 pesawat dan akhir 2014 ditargetkan 185 pesawat dari 717 pesawat yang telah dipesan.

Dia berharap pengembangan MRO juga untuk mempersiapkan MEA dan ASEAN Open Sky 2015. (ani)

loading...