Angkasa Pura 2

Jakarta Macet

Perlu Rekayasa Lalu Lintas dan Bangun Angkutan Umum

KoridorRabu, 15 Oktober 2014
Lalin Sarinah

JAKARTA (beritatrans.com) – Jalanan utama di Jakarta bak lautan kendaraan di waktu berangkat atau pulang kerja. Ribuan kendaraan pribadi dan angkutan umum menumpuk di jalan. Akibatnya, jalanan makin macet dan bisa mengganggu produktivitas kerja warganya.

Pantauan beritatrans.com, Selasa (14/10/2014) petang, ruas Jalan MH.Thamrin Jakarta Pusat sampai Jalan Hayam Wuruk Jakarta Barat sangat padat. Kondisi tersebut selalu terjadi setiap hari kerja. Ribuan mobil dan motor berebut jalan untuk pulang ke rumah masing-masing. Kondisi itu makin parah sejalan dengan pembangunan proyek MRT terutama di Jalan Sudirman-Jalan MH.Thamrin saat ini.

Pemprov Jakarta bersama Polda Metro Jaya melakukan rekayasa lalu lintas di kedua ruas jalan tersebut. Memberlakukan sistem Three in One, setiap kendaraan yang melintas minimal berisi tiga orang atau lebih. Tapi, upaya tersebut belum berhasil maksimal. Jalanan Jakarta masih macet, oknum jokie atau penjualan jasa menumpang marak di jalanan ibukota Jakarta.

Lalin Hayam Wuruk

Pakar transportasi Unika Soegijapranata Semarang, Ir.Djoko Setijowarno, M.Str mengatakan, untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di kota-kota besar seperti Jakarta mutlak harus dilakukan rekayasa lalu lintas.

“Kebijakan Three in One itu sudha bagus dan perlu dioptimalkan. Bila perlu ditambah dan diperluas areanya,” kata Djoko menjawab beritatrans.com, kemarin.

Namun begitu, Three in One saja belum cukup.Pemprov Jakarta perlu mencari terobosan lain untuk menekan kemacetan lalu lintas. Bagaimana mengurangi orang menggunakan kendaraan pribadi yang membuat jalanan tambah macet serta boros konsumsi BBM subsidi. Bisa dengan ERP (electronic road pricing), membangun jalan baru dan lainnya.

“Kuncinya satu, membangun angkutan umum massal yang baik murah dan penetrasinya sampai ke pemukiman warga. Jika angkutan umum baik, tentu orang akan mau meninggalkan kendaraan pribadinya,” jelas dia.

“Angkutan umum massal itu bisa berbasis bus, kereta seperti KRL, MRT atau lainnya. Jika mau, banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk menekan kemacetan ini,” tegas Djoko.(helmi/awe)

loading...