Angkasa Pura 2

2015, Basarnas akan Membeli Kapal dan Helikopter

Another NewsRabu, 22 Oktober 2014
Helikopter SAR

JAKARTA (beritatrans.com) – Badan SAR Nasional (Basarnas) tahun 2015 berencana untuk membeli alat-alat evakuasi dan penolong keselamatan ke tempat kejadian musibah (TKM). Operasi SAR butuh dukungan alat dan fasilitas seperti mobil, truck, helikopter, pesawat, kapal dan lainnya.

“Kita sudah punya banyak, termasuk kapal dan helikopter. Tapi untuk meng-cover wilayah Indonesia yang luas harus ditambah lagi alat-alat tersebut,” kata Karo Umum Basarnas Agus Sukarno di Bogor, belum lama ini.

Untuk mendukung operasi SAR terutama di daerah remote harus dibantu alat-alat yang cukup. Untuk daerah tertentu harus dijangkau dengan helikopter, atau kapal jika di laut. “Tapi rencana penambahan alat-alat evaluasi SAR masih akan disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara. SAR tak bisa memaksakan kalau keuangan negara tak mampu,” jelas Agus.

Indonesia sebagai anggota IMO dan ICAO harus mempunyai SAR lengkap dengan peralatan yang dibutuhkan. “Jika terjadi kecelakaan terutama di laut, hutan, gunung atau daerah remote bisa dilakukan dan menolong kurban dengan maksimal,” tutur Agus saat dikonfirmasi beritatrans.com.

Indonesia, jangan sampai masuk black area oleh IMO dan ICAO. “Jika itu terjadi, kita Sebagai bangsa yang rugi. Indonesia akan dijauhi maskapai asing dan kapal-kapal asing tak mau singgah di Indonesia,” terang Agus.

Kasubang Humas dan Hubungan Media Basarnas Yusuf Latif mengatakan, saat ini di Basarnas mempunyai 54 Kantor SAR di seluruh Indonesia. Yang paling banyak di kawasan timur Indonesia (KTI) seperti Maluku, Papua, Sulawesi dan Kalimatan.

“Sedang alat-alat yang dimiliki antara lain, 34 kapal, 2 helikopter Doam, 5 helikopter BO. Selain itu ada 50 truk personel dan 50 truk evakusasi,” kata Yusuf saat dikonformasi beritatrans.com di Jakata, Selasa (21/10/2014).

Indonesia masih membutuhkan alat-alat evakuasi SAR ke TKM yang kebanyakan di daerah terpencil, terluar dan medan sulit. “Kalau melihat luas wilayah Indonesia serta kasus-kasus kecelakaan yang tinggi, Basarnas butuh alat lebih banyak lagi. Tapi, semua itu harus disesuaikan dengan kemampuan pendanaan pemerintah,” tegas Yusuf.(helmi).

loading...