Angkasa Pura 2

Pakar: Politik dan SDA Masalah Krusial Pemicu “Perpecahan” Bangsa

Another NewsRabu, 29 Oktober 2014
Ichsan Malik Unhan

BANDUNG (beritatrans.com) – Masalah politik dan sumber daya alam (SDA) yang dikelola secara tidak adil menjadi masalah krusial memicu konflik bahkan perpecahan bangsa Indonesia. Indonesia adalah negara yang majemuk, baik suku, agama, ras dan antar golongan. Di sisi lain juga kaya sumber daya alam (SDA) yang bisa menjadi modal dalam pertarungan politik di Tanah Air.

“Kondisi itu akan semakin berbahaya jika ada isu-isu suku ras, agama, etnik dan antar golongan (SARA) yang sengaja dimainkan pihak-pihak tertentu,” ujar pakar psikologi konflik dari Universitas Pertahanan (Unhan) Dr.Ichsan Malik menjawab beritatrans.com di Bandung, Selasa (28/10/2014) malam.

Dalam beberapa kasus konflik dan kekerasan di Tanah Air belakangan, menurut Ichsan, banyak dipicu oleh kasus-kaus politik. Pilkada di berbagai daerah serta isu-isu penguasaan SDA yang tidak adil bisa memciu konflik sosial yang berdarah-darah. Pilpres tahun 2014 kemarin, bangsa Indonesia hampir terpecah. Petinggi negeri ini termasuk purnawirawan TNI/ Polri berbeda pandangan politik.

“Jika tak segera sadar dan bersatu kembali, Indonesia dengan 250 juta jiwa diambang perpecahan. Riak-riak kecil di masyarakat mulai muncul. Dan semua itu harus segera diatasi dan diselesaikan,” kata staf pengajar managemen konflik di program S-II dan S-III UI Jakarta itu.

Bangsa Indonesia selama 15 tahun terakhir, diwarnai konflik sara di Ambon Maluku, Poso Sulawesi Tengah, Sampit dan Sambas di Kalimantan, semua berawal dari kasus sepele. “Tapi karena terlambat dan ada sebagian anak bangsa yang bermain di air keruh, jadilah tragedi berdarah yang memilikan. Kondisi itu masih ditambah  dengan masalah di Aceh dan Papua yang bermula dari masalah ekonomi dan pengelolaan SDA yang dirasa kurang adil,” papar Ichsan.

Indonesia dengan keragaman suku, bangsa, bahasa dan agama yang tinggi cukup potensial terjadi konflik bahkan perpecahan. Demokratisasi dimana pelaksanaan pilpres dan pilkada langsung  terjadi di daerah hampir sepanjang tahun.

“Jika masalah ini tak dikelola dan diatasi dengan baik, bisa memicu perpecahan. Demokratisiasi memang tak bisa dihalangi di Indonesia dan dunia. Tapi,  dampak negatifnya juga harus diantisipasi dengan baik. Para elit politik dan psrpol  harus bijak. Jangan kurbankan kesatuan dan persatuan bangsa hanya demi kepentingan sesaat,” papar Ichsan.

Masalah ini harus menjadi tugas dan tanggung jawab seluruh komponen bangsa. Jangan lagi masalah stabilitas politik dan keamanan di Tanah Air hanya diserahkan pada aparat khususnya TNI/ Polri. “Ini masalah kita sebagai bangsa. Jangan biarkan masalah kecil menjadi besar  bahkan cenderung negatif,” pesan Ichsan.

Akar permasalah bangsa dan ancaman perpecahan ada, karena Indonesia adalah bangsa majemuk. Indonesia ini Bhinneka Tunggal Ika. Itu ada sejak abad ke-14, zaman Majapahit. Setiap perbedaan itu berpotensi pemicu masalah yang bisa berujung konflik dan perpecahan. “Tugas kita adalah, bagaimana mengeola konflik dengan baik. Jadikan perang menjadi konflik bahkan bisa dieliminer menjadi kekuatan pemersatu bangsa yang senantiasa maju dan dinamis,” tegas Ichsan Malik.(helmi)